Browsing by Author "Syarfi"
Now showing 1 - 16 of 16
Results Per Page
Sort Options
Item DEGUMMING CPO (CRUDE PALM OIL) MENGGUNAKAN MEMBRAN ULTRAFILTRASI(2013-05-04) Syarfi; Zahrina, Ida; WidyaProses degumming CPO (Crude Palm Oil) secara konvensional dilakukan dengan penambahan H3PO4, H2SO4 atau HCl. Alternatif penyisihan phospolipid dari CPO dapat dilakukan dengan teknologi membran. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari unjuk kerja membran ultrafiltrasi (UF) terhadap fluks dan rejeksi phospolipid yang terkandung didalam CPO. Membran UF yang digunakan adalah membran kapiler. Penelitian dilakukan dengan melewatkan CPO ke dalam membran UF dengan variabel tekanan 0,5 ; 1; 1,5 dan 2 bar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan fluks akibat kenaikan tekanan. Fluks tertinggi diperoleh pada tekanan 2 bar yaitu 0,651 L/m2.jam. Sedangkan fluks terendah diperoleh pada tekanan 0,5 bar yaitu 0,280 L/m2.jam. Rejeksi phospolipid dari CPO mencapai 87,73%.Item DEGUMMING DAN PENYISIHAN FFA DARI CPO PARIT DENGAN MEMBRAN ULTRAFILTRASI SISTEM ALIRAN CROSS-FLOW(2012-11-12) Zulfansyah; Syarfi; Zahrina, IdaKadar Gum Dan FFA dalam bahan baku CPO parit dapat diturunkan antara lain dengan menggunakan teknologi membran. Penelitian dllakukan terhadap membran ultrafiltrasi Capillary bermaterial polypropilen dengan sistim aliran cross Flow yang beretujuan untuk mempelajari : Fluk terhadap waktu pada berbagai tekanan, efektivitas pencucian kimia terhadap fluk recovery dan Resintance Removal serta rejeksi. Penelitian dilakukan pada tekanan trans-membran masing-masing: 0,5; 1; 1,5; dan 2 bar, dan pencucian kimia (NaOH) dengan konsentrasi masing-masing 0; 0,5; dan 1 N. Prosudur penelitian meliputi Pengukuran fluk mula-mula (J J dengan aquades selama 20 menit. Pengukuran fluk treatment CPO parit selama 90 menit (J J . Pengukuran fluk permeat pada pembilasan pertama dengan aquadet selama 20 menit ( J ^ . Pengukuran fluk pada pencucian kimia selama 20 menit(Jc). Pengukuran fluk pada pembilasan tahap kedua dengan aquades (J^). Hasil penelitian menunjukkan: rejeksi FFA dan Phosphorous mencapai 82% dan 44%; Fluk permeat tertinggi mencapai 3.5 LVJam.m^ pada tekanan trans-membran 2 bar dengan pencucian kimia 1 N ; Fluk Recovery (FR) dan Resistance Removal (RR) mencapai 48 % dan 82 %.Item KOMBINASI PENGOLAHAN ANAEROB DAN MEMBRAN ULTRAFILTRASI BERBAHAN DASAR POLISULFON UNTUK PROSES PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT(2013-03-20) Shadily, Maulana; Syarfi; Ahmad AdriantoPalm oil wastewater is very dangerous if flowing directly to the environment because they have highly pH content, total suspended solid (TSS) and chemical oxygen demand (COD). One of the treatment is combination of anaerob and membrane. The aim of this research are to learn of decreasing pH, COD and TSS in anaerob bioreactor and to learn about the influence of membrane pressure with flux, rejection, pH and TSS at ultrafiltration membrane. Methode of this research consist of microorganism seeding, aclimatitation, start-up and bioreactor operasional, then separation with polysulfone ultrafiltration membrane with pressure variation of 1, 1,2, 1,4 bar. The results of this research showing that for the pressure of 1 bar resulting pH and TSS value are 8,1 and 30 mg/L. For the pressure of 1,2 bar resulting pH and TSS value are 8,1 and 30 mg/L. For the pressure of 1,4 bar resulting pH and TSS value are 8,2 and 0 mg/L. This results showing that the most optimum membrane pressure is 1,2 bar with TSS efficiency 98,01%.Item Pemanfaatan Bentonit Sebagai Adsorben Pada Proses Bleaching Minyak Sawit(2015-09-28) Yusnimar; Purwaningrum, Is sulistyati; Sunarno; Syarfi; DrastinawatiPenelitian tentang pemanfaatan bentonit sebagai adsorben pada proses bleaching minyak sawit telah dilakukan. Proses bleaching minyak sawit mentah (CPO) dilakukan dengan beberapa tahapan proses, yaitu proses aktivasi bentonit, proses penyabunan CPO dan proses bleaching CPO. Bentonit yang digunakan diperoleh dari daerah Lipat Kain Propinsi Riau Daratan. Bentonit yang akan digunakan pada proses bleaching, bentonit dibersihkan dan dihaluskan menjadi ukuran partikelnya 100 mesh dan 200 mesh, kemudian bentonit tersebut diaktivasi dengan menggunakan larutan H2SO4 5% di dalam tangki berbaffle, kemudian dipanaskan pada suhu 110oC sampai beratnya konstan. Sebelum CPO di bleaching, dilakukan proses penyabunan terhadap CPO dengan menggunakan larutan NaOH 10%, untuk memisahkan kotoran dan asam lemak bebas (FFA) dari minyak. Minyak dari hasil proses penyabunan tersebut di bleaching dengan menggunakan bentonit aktif pada suhu 70 – 80oC. Dari hasil proses bleaching diketahui bahwa warna minyak sawit mentah berubah dari berwarna coklat kemerah-merahan dan keruh menjadi kuning muda dan jernih. Variasi ukuran partikel bentonit terhadap warna minyak yang di bleaching tidak terlalu berbeda. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa bentonit asal daerah Lipat kain dapat digunakan sebagai adsorben atau bleaching agent pada proses pembuatan minyak sawitItem PEMBUATAN BIODIESEL DARI CPO PARIT DENGAN REAKTOR MEMBRAN(2013-05-04) Syarfi; Zahrina, Ida; ZulfansyahTantangan pembuatan biodiesel secara konvensional antara lain sulit mencapai konversi yang tinggi tanpa menggunakan energi yang besar dan proses yang panjang. Salah satu teknologi alternatif yang sangat mungkin dikembangkan untuk menangani masalah tersebut adalah reaktor membran. Penelitian pembuatan biodiesel menggunakan bahan baku CPO parit dengan kadar FFA 90%, methanol, dan asam sulfat sebagai pereaksi dan katalis. Penelitian menggunakan reaktor membran sebagai alat utama, yang dilengkapi dengan alat pemanas umpan, tangki umpan, dan pompa. Penelitian dilakukan dengan memanaskan CPO parit sampai temperatur 70C. Perbandingan molar umpan terhadap methanol adalah 1:5 dan katalis1 % berat. Campuran CPO parit, methanol dan katalis diumpankan ke reaktor membran pada tekanan 0,5 , 1, 1,5 dan 2 bar dengan waktu tinggal dalam reaktor 2 jam dengan cara mensirkulasikan retentat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi relatif mencapai 89,2% pada tekanan 2 bar. Fluks rata mencapai 10 L/jam-m2. Viskositas, densitas, dan titik nyala telah memenuhi baku mutu biodiesel.Item Pemisahan Zat Warna Alami ADari Larutan Eksr=traksi Kunyit Dengan Membran Ultrafiltrasi Selulota Asetat Sistem Aliran Crossflow(2013-03-07) Drastinawati; SyarfiAdanya zat warna sintetik yang kadarnya berlebih pada makanan dapat menimbulkan efek negatif bagi kehidupan manusia karena zat warna sintetik bersifat karsinogenik yang dapat mengakibatkan penyakit kanker. Zat warna alami merupakan salah satu zat warna yang aman untuk dikonsumsi dan dapat menghindari resiko timbulnya penyakit kanker bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinerja membran ultrafiltrasi dalam pembuatan kurkumin. Penelitian ini dilakukan dengan melewatkan larutan ekstrak kunyit ke dalam membran ultrafiltrasi pada berbagai laju alir : 170.5L/jam, 214.PL/jam dan 265.3L/jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks tertinggi tercapai pada laju alir 265.3L/jam yaitu 0.326L/m^jam, sedangkan fluks terendah tercapai pada laju alir 170.5L/jam yaitu 0.125L/m^jam. Semakin besar laju alir yang diberikan pada membran maka semakin besar pula fluks yang dihasilkan.Item Pencucian Kimia Secara Forward Flushing Pada Membran Ultrafiltrasi Selulosa Asetat Sistem Aliran Dead End Dalam Proses Pengolahan Emulsi Minyak(2015-07-30) Syarfi; Edward; Gaffar, Desrizal; Rachim, SaytuAplikasi pemisahan emulsi minyak dalam air menggunakan membran menunjukan terjadinya fenomena fouling. Foulant penyebab fouling cenderung bersifat reversibel dan irreversible. Pereduksian foulant dapat dilakukan dengan pencucian kimia. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari efisiensi dan efektivitas pencucian dari agent chemical cleaning (NaOH, HCl dan HNO3) untuk foulant emulsi minyak. Operasi pencucian membran UF selulosa asetat sistem aliran dead end dilakukan secara forward. Pembilasan dilakukan selama 30 menit dengan tekanan 0,5 bar, begitu juga dengan pencucian kimia. Variasi konsentrasi chemical cleaning agent adalah 0,1, 05, dan 1 N. Perbandingan emulsi minyak yaitu 5%:95% di-treatment selama 60 menit dengan variasi tekanan umpan 0,5; 1 dan 1,5 bar. Hasil penelitian ini menunjukan, pencucian dengan NaOH 1 N lebih efisien. Efektivitas rata-rata pencucian mencapai 29,82 % seteiah dicuci dengan NaOH, 16,40 % menggunakan HCl dan 8,80 % saat menggimakan HNO3. Kata Kunci: Pencucian Kimia, Fouling Membran UF, Emulsi MinyakItem Pencucian Kimia Secara Forward Flushing Pada Membran Ultrafiltrasi Selulosa Asetat Sistem Aliran Dead End Dalam Proses Pengolahan Emulsi Minyak(2013-01-12) SyarfiAplikasi pemisahan emulsi minyak dalam air menggunakan membran menunjukan terjadinya fenomena fouling. Foulant penyebab fouling cenderung bersifat reversibel dan irreversible. Pereduksian foulant dapat dilakukan dengan pencucian kimia. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari efisiensi dan efektivitas pencucian dari agent chemical cleaning (NaOH, HCl dan HNO3) untuk foulant emulsi minyak. Operasi pencucian membran UF selulosa asetat sistem aliran dead end dilakukan secara forward. Pembilasan dilakukan selama 30 menit dengan tekanan 0,5 bar, begitu juga dengan pencucian kimia. Vatfiasi konsentrasi chemical cleaning agent adalah 0,1, 05, dan 1 N. Perbandingan emulsi minyak yaitu 5%:95% di-treatment selama 60 menit dengan variasi tekanan umpan 0,5; 1 dan 1,5 bar. Hasil penelitian ini menunjukan, pencucian dengan NaOH 1 N lebih efisien. Efektivitas rata-rata pencucian mencapai 29,82 % seteiah dicuci dengan NaOH, 16,40 % menggunakan HCl dan 8,80 % saat menggunakan HNO3.Item Pencucian Kimia Secara Forward Flushing Pada Membran Ultrafiltrasi Selulosa Asetat Sistem Aliran Dead End Dalam Proses Pengolahan Emulsi Minyak.(2013-01-14) SyarfiAplikasi pemisahan emulsi minyak dalam air menggunakan membran menunjukan terjadinya fenomena fouling. Foulant penyebab fouling cenderung bersifat reversibel dan irreversible. Pereduksian foulant dapat dilakukan dengan pencucian kimia. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari efisiensi dan efektivitas pencucian dari agent chemical cleaning (NaOH, HCl dan HNO3) untuk foulant emulsi minyak. Operasi pencucian membran UF selulosa asetat sistem aliran dead end dilakukan secara forward. Pembilasan dilakukan selama 30 menit dengan tekanan 0,5 bar, begitu juga dengan pencucian kimia. Vatfiasi konsentrasi chemical cleaning agent adalah 0,1, 05, dan 1 N. Perbandingan emulsi minyak yaitu 5%:95% di-treatment selama 60 menit dengan variasi tekanan umpan 0,5; 1 dan 1,5 bar. Hasil penelitian ini menunjukan, pencucian dengan NaOH 1 N lebih efisien. Efektivitas rata-rata pencucian mencapai 29,82 % seteiah dicuci dengan NaOH, 16,40 % menggunakan HCl dan 8,80 % saat menggunakan HNO3Item Pencucian Secara Kimia Membran Ultrafiltrasi Sistem Aliran Cross Flow Pada Proses Penyaringan Air Terproduksi(2013-07-01) Saputra, Anggi Dwi; Syarfi; KhairatProduced water is water that obtained from the process of oil mining. Based on the characteristic that the produced water is classified as to the wastewater, required treatment before being discharged into water bodies. One of the alternative technologies that can be used for produced water treatment is membrane technology. The main challenge in the use of membrane technology is fouling. This research aims to study the trans-membrane pressure on flux, study the effectiveness and efficiency of NaOH and detergent in the regeneration process of ultrafiltration membranes on operation filtration of produced water. The study was conducted using ultrafiltration membranes by feeding produced water. The method used is by varying the operating pressure of 0.5 bar and 1 bar, variations in the concentration of NaOH and Detergents 0.5%, 1% and 1,5%. Filtration process of produced water lasted for 120 minutes and each leaching time is 30 minutes, the highest effectiveness rate of 30.55% obtained by using detergent 1.5%, the highest leaching efficiency based on flux recovery value is 69.66% and 30.55% for removal resistance, the highest flux value after chemical leaching obtained 0.8950 ml/menit.cm2 in trans-membrane pressure of 0.6 bar and the concentration of the detergent 1.5%.Item PENCUCIAN SECARA KIMIA MEMBRAN ULTRAFILTRASI SISTEM ALIRAN CROSS FLOW PADA PROSES PENYARINGAN AIR TERPRODUKSI(2014-06-30) Syarfi; Khairat; Elystia, Shinta; Saputra, Anggi Dwi; Priadinanta, LeriAir terproduksi adalah air yang dihasil dari proses pertambangan minyak bumi. Air terproduksi berdasarkan karakteristiknya tergolong dalam limbah cair, diperlukan pengolahan sebelum dibuang ke badan air. Salah satu teknologi alternatif yang dapat digunakan untuk pengolahan air terproduksi adalah teknologi membran. Tantangan utama dalam penggunaan teknologi membran adalah fouling. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tekanan trans-membran terhadap fluks, mempelajari efektifitas dan efisiensi bahan pencuci NaOH dan Detergen dalam proses regenerasi membran ultrafiltrasi pada operasi penyaringan air terproduksi. Penelitian dilakukan menggunakan membran ultrafiltrasi dengan umpan air terproduksi. Metoda yang digunakan adalah dengan memvariasikan tekanan operasi 0,5 bar dan 1 bar, variasi konsentrasi NaOH dan Detergen 0,5%, 1% dan 1,5%. Proses penyaringan air terproduksi berlangsung selama 120 menit dan waktu pencucian masing-masing 30 menit. Efektifitas pencucian tertinggi mencapai 30,55% dengan menggunakan detergen 1,5%. Efisiensi pencucian tertinggi berdasarkan nilai flux recovery 69,66% dan berdasarkan nilai resistance removal 30,55%. Fluks tertinggi setelah dilakukan pencucian kimia didapat 0,8950 ml/menit.cm2 pada tekanan trans-membran 0,6 bar dan konsentrasi bahan kimia pencuci detergen 1,5%.Item PENGOLAHAN LIMBAH CAIR EMULSI MINYAK DENGAN MEMBRAN ULTRA FILTRASI SISTEM ALIRAN CROSS-FLOW(2014-02-06) SyarfiMinyak mesin pemotong (Cutting oil) merupakan salah satu jenis emu lsi minyak yang paling penting karena banyak digunakan dalarn kegialan-kegialan induslri dan bengkeJ yang berhubungan dengan pengerjaan logam seperti pemberian alur (screwing) atau pengikisan (grinding). Kegiatan semacam ini dapat kita jumpai antara lain pada industri otomotif, industri pembuatan kabel atau kawat Jogam, dan industri manufaktur. Emulsi minyak pada kegiatan ini berlungsi untuk menahan panas yang timbul akibat terjadi kontak antara atat pemotong dengan potongan logam. EmuJsi minyak mengandung air sekitar 90-95% dan seJebihnya terdiri dari berbagai macam jenis campuran minyak (minyak, mineral, hewani, nabati, sintetik, alkohol, senyawa anti korosi, lubricant, dan senyawa additif lainnya). Efektifitas emulsi minyak akan berkurang setelah sekian Jamadipakai dan perJu diganti dengan yang baru secara pcriodik, sehingga limbah emulsi minyak yang dihasilkan setiap tahunnya akan sangat besar. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, maka akan terjadi pencemaran lingkungan.Item PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK CPO DENGAN TEKNOLOGI OZONASI(2013-01-17) Mawarti; Syarfi; ZulfansyahThe extraction of crude palm oil (CPO) yielding palm oil mill effluent (POME) 60% of total production capacity. POME generally have exceeded organic matter of regulation standart of Kepmen LH No.KEP- 51/MENLH/1995. Ozonation is one of other ways that may be apllied for wastewater treatment. The technology is conducted by contacting POME with ozone. Ozone generated from ozonizer 18 watt power. Consentration ozone that generated is 0,1068 mg/s. Ozone use to reduction COD, Oil and fats, and Total Solid (TS) of POME with pH and contacting time variation. Variation of pH is 4,25; 7 and 10 with NaOH addition and contacting time variation is 10, 20, 30 and 40 minutes. The research resulting obtained decrease of POME compound organic matter. The effisiensy of COD removal maximum reaches 77,93% on pH 4,25 at 40 minutes conacting time, oil and fats removal maximum reaches 60,81% on pH 10 at 20 minutes contacting time, and effisiency of TS removal maximum reaches 98,51% on pH 10 at 10 minutes ozonation.Item PENYISIHAN PHOSPOLIPID DAN FFA DARI CPO PARIT DENGAN MEMBRAN ULTRAFILTRASI SISTEM ALIRAN CROSS-FLOW(2013-05-06) Syarfi; Zahrina, Ida; ZulfansyahKadar Gum Dan FFA dalam bahan baku CPO parit dapat diturunkan antara lain dengan menggunakan teknologi membran. Penelitian dilakukan terhadap membran ultrafiltrasi Capillary bermaterial polypropilen dengan sistim aliran cross Flow yang beretujuan untuk mempelajari : Fluk terhadap waktu pada berbagai tekanan, efektivitas pencucian kimia terhadap fluk recovery dan Resintance Removal serta rejeksi. Penelitian dilakukan pada tekanan trans-membran masing-masing: 0,5; 1; 1,5; dan 2 bar, dan pencucian kimia (NaOH) dengan konsentrasi masing-masing 0; 0,5; dan 1 N. Prosudur penelitian meliputi Pengukuran fluk mula-mula (Jwi) dengan aquades selama 20 menit. Pengukuran fluk treatment CPO parit selama 90 menit (Jw). Pengukuran fluk permeat pada pembilasan pertama dengan aquadet selama 20 menit (Jww). Pengukuran fluk pada pencucian kimia selama 20 menit(Jc). Pengukuran fluk pada pembilasan tahap kedua dengan aquades (Jwc). Hasil penelitian menunjukkan: rejeksi FFA dan Phosphorous mencapai 82% dan 44%; Fluk permeat tertinggi mencapai 3.5 L/Jam.m2 pada tekanan trans-membran 2 bar dengan pencucian kimia 1 N ; Fluk Recovery (FR) dan Resistance Removal (RR) mencapai 48 % dan 82 %.Item Rekayasa Teknologi Membran Untuk Produksi Biodiesel(2013-01-09) SyarfiBiodisel dapat diproduksi dari minyak nabati seperti CPO atau CPO parit melalui proses esterifikasi transesterifikasi dan transesterifikasi. Untuk CPO mutu standar tranesterifikasi hanya dilakukan satu tahap, sedangkan untuk CPO mutu rendah mengandung asam lemak bebas tinggi tranesterifikasi dilakukan dua tahap, akibatnya konsumsi metanol menjadi dua kali lipat dan rendemen biodiesel menurun sebesar 20- 30%. Oleh karena itu untuk bahan baku CPO mutu rendah perlu treatment bahan baku untuk menurunkan kadar FFA < 5%, demikian juga kandungan gum tidak lebih dari 60 ppm. Kadar F FA dan Gum dalam bahan baku CPO parit dapat diturunkan dengan menggunakan teknologi membran. Telah dilakukan penelitian terhadap membran ultrafiltrasi untuk menurunkan kadar Gum dan FFA dengan modul Capillary dengan sistim aliran cross Flow yang beretujuan untuk mempelajari : Fluk terhadap waktu pada pada berbagai tekanan, pengaruh jenis bahan kimia terhadap pengembalian fluk; dan efektivitas konsentrasi bahan kimia terhadap fluk recovery dan Resintance Removal serta rejeksi. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan: tekanan; konsentrasi bahan kimia pencuci, jenis bahan kimia masing pada tekanan 0,5; 1.; 1,5; dan 2 bar, konsentrasi 0; 0,5; dan 1 N , jenis bahan pencucian kimia NaOH dan HCL. Prosudur penelitian meliputi Pengukuran fluk mula-mula (JwO dengan aquades selama 20 menit. Pengukuran fluk treatment CPO parit selama 90 menit (Jw). Pengukuran fluk pada pembilasan pertama dengan aquadet selama 20 menit (Jww)- Pengukuran fluk pada pencucian kimia selama 20 menit(Jc). Pengukuran fluk pada pembilasan tahap kedua dengan aquades (Jwc)- Hasil penelitian menunjukkan: rejeksi FFA dan Phosphorous masing-masing mencapai 82% dan 44%; Fluk permeat tertinggi dicapai 3.5 L/Jam.m^ pada pencucian dengan NaOH i N dan tekanan operasimembran 2 bar; Fluk permeat Recovery (FR) tertinggi mencapai 55% pada pencucian dengan HCL 0,5 N dan tekanan operasi 2bar; Resistance Removal (RR) paling tinggi mencapai 82% pada tekanan 2 bar dan konsentrasi pencucian dengan NaOH 1 N ; Faktor konsentrasi larutan pencuci memberikan kontribusi terbesar yaitu mencapai 55,85%) untuk FR dan 48,51%) untuk RR dan diikuti oleh kombinasi tekanan konsentrasi mencapai 12,65%) untuk FR dan kombinasi jenis bahan pencuci dengan konsentrasi dengan kontribusi 20,62%).Item Rekayasa Teknologi Membran Untuk Produksi Biodiesel(2015-07-05) Syarfi; Zulfansyah; Zahrina, IdaBiodisel dapat diproduksi dari minyak nabati seperti CPO atau CPO parit melalui proses esterifikasi transesterifikasi dan transesterifikasi. Untuk CPO mutu standar tranesterifikasi hanya dilakukan satu tahap, sedangkan untuk CPO mutu rendah mengandung asam lemak bebas tinggi tranesterifikasi dilakukan dua tahap, akibatnya konsumsi metanol menjadi dua kali lipat dan rendemen biodiesel menurun sebesar 20- 30%. Oleh karena itu untuk bahan baku CPO mutu rendah perlu treatment bahan baku untuk menurunkan kadar FFA < 5%, demikian juga kandungan gum tidak lebih dari 60 ppm. Kadar FFA dan Gum dalam bahan baku CPO parit dapat diturunkan dengan menggunakan teknologi membran.