Browsing by Author "Gimin"
Now showing 1 - 15 of 15
Results Per Page
Sort Options
Item Difference Of Teach Performance Between Teachers Which Has And Has Not Certificated In Country Junior High School Kuantan Hilir District, Kuantan Singingi Sub-Province(2017-09-12) Gimin; Nas, Syakdanur; Darmi, HelfiAccording to educationist, teacher is more main factor in influencing quality of education. In this case based on UU RI number 14 the year 2005, governmental gives educator certificate to professional teachers to realize purpose of national education. But in this case, phenomenon happened no difference of teacher performance which has certificated. The implementation of this policy, specially in Kuantan Hilir district, Kuantan Singingi sub province that has 5 country junior high school, at the time of this research done has around 20% teachers which have been certificated. On this research aim to know “are there significant difference of teach performance between teachers which has and has not certificated”. Refers formula Slovin, this research done to 50% sample to apply technique of proporsisonal random sampling from population 100 teachers. Data is collected to applies questionaire which is made researcher based on the variable indicator. The data which collected analysed to applies t-test (t-tes) for two separate samples at level 5% significant with help of Program SPSS. Descriptively shows out of 24 performance teach indicators, average of teacher which certificated that “often” and “very often” done is 46% and 43% with score average of 104,7, while teacher which not certificated is “enough often” and “often” each of 40,75% and 33,12% with score average of 79,2. From t-tes analysis is obtained thitung = 11,12. This number bigger ttabel specified 1,677. That means there are difference of teach performance in assures between teachers which has and has not certificated. Thereby policy of certification has benefit, because performance score teach of teacher that has certificated higher of 24,65% compared has not certificatedItem The Improvement of Student’s Activities through the Implementation of Cooperative Script Model(2017-10-12) Kartikowati, Sri; GiminThis paper is a Classroom Action Research (CAR) aimed to describe the improvement process of student’s activities in Business English subject. The improvement was accomplished by implementing model of cooperative script. The experiment was conducted at the Faculty of Education, Riau University. Thirty three students were the subject of this study. The research was conducted in three cycles, each cycle includes the steps of planning, implementing, observing, and reflecting. The data was collected through field observation technique covered lecturer’s activities and student’s activities. The result found that the implementation of the model could improve student’s activities. Assuming that the lecturer’s ability in designing lesson plan and the involvement of student’s activities proportionally could conclude that the implementation of cooperative script as a learning model to be effective.Item The Influence Of Job Competency, Role Clarity, And Work Motivation On The Success Of Small-Scale Business(2017-10-12) Giminthis research aimed to investigate the influence of job competency (X1), role clarity (X2) and work motivation (X3) on the success of small-scale business (Y). Ninety four samples were taken by proportional quota random sampling technique. Data were analyzed using multiple linear regressions and path analyzed with 5% significance level. From path analysis, it was found that Y was directly affected by X2 and X3 with the effectiveness of 6,2% and 24,5%. The X1 affects Y indirectly with the effectiveness of 14,1%. Through multiple regression, it was found that X1, X2, X3 together affect Y significantly with the effectiveness of 26,2%.Item Mendesain Standardisasi Pelaksanaan Perkuliahan: Rekomendasi Untuk Pengajaran Mikro(2017-10-12) Gimin; Kartikowati, Sri; Bedriati; Asril; SupentriPerbedaan dosen dalam pelaksanaan perkuliahan Pengajaran Mikro mengakibatkan perbedaan kompetensi lulusan, sehingga diperlukan standard pelaksanaannya. Dalam rangka menghasilkan standard tersebut, kami mendeskripsikan rekomendasi yang dijaring dari dua langkah yang dilakukan dalam rangka mendesain standardisasi pelaksanaan perkuliahan Pengajaran Mikro (Mikro teaching) di Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (P.IPS) di Universitas Riau. Deskripsi rekomendasi merupakan tujuan pertama studi ini dari langkah yang disebut Analisis kebutuhan. Kami mengidentifikasi tingkat kebutuhan Pengajaran Mikro dari data yang diperoleh melalui angket ditujukan kepada responden guru dan mahasiswa. Selanjutnya data diolah menggunakan SPSS V.17. Hasil dari langkah Analisis kebutuhan menunjukkan tingkat kebutuhan keterampilan mengajar sebesar 91%, artinya sangat direkomendasikan tersedianya buku standardisasi Pengajaran Mikro.Tujuan kedua merupakan rekomendasi dari langkah Ujicoba terbatas praktek mengajar tiga orang mahasiswa. Data dikumpulkan melalui observasi atas dua kegiatan praktik mengajar (sebelum dan setelah buku standarisasi Pengajaran Mikro dibaca dan dibahas). Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil dari langkah Ujicoba terbatas menunjukkan rata-rata peningkatan sebesar 18,3% pada semua aspek keterampilan yang diamati. Temuan ini merekomendasikan agar dalam buku standarisasi Pengajaran Mikro mencantumkan lebih banyak contoh riil dan komprehensif pada setiap aspek keterampilan mengajar.Item Peluang Usaha melalui Keterampilan Merajut bagi Anggota PKK RW-05 Kelurahan Lembah Sari Kecamatan Rumbai Pesisir - Pekanbaru(2013-04-22) Kartikowati, Sri; Gimin; Sumarno; Trisnawati, FennyPeran kaum perempuan di Indonesia makin lama semakin menunjukkan peran yang sangat signifikan, tidak saja di koa-kota besar di Indonesia tetapi juga di pedesaaan. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa kaum perempuan mampu perkasa dalam menopang ekonomi keluarga. Kaum ibu misalnya, mampu membantu pendapatan keluarga dengan melakukan banyak hal, seperti bertani, berternak, dan berwirausaha. Naisbitt mengangkat issu tentang perempuan yang muncul sebagai salah satu dari sepuluh arah baru untuk tahun 2000-an merupakan dasawarsa perempuan/wanita dalam kepemimpinan. Issu tersebut sempat membangkitkan perhatian kalangan praktisi maupun akademisi. Peran perempuan dalam menambah pendapatan keluarga, umumnya bagi kaum perempuan yang berpendidikan menengah ke bawah, adalah menciptakan sesuatu produk atau jasa yang memiliki ‘nilai jual’. Peran membantu pendapatan keluarga itu dilakukan tanpa mengganggu peran utama dirinya sebagai ibu rumah tangga. Caranya dengan melakukan kegiatan produktif di waktu senggang, artinya ada manajemen waktu yang sangat fleksibel. Dengan demikian kaum perempuan telah berperan ganda – tidak meninggalkan keluarga dalam melakukan kegiatan produktif. Hebatnya anggota keluarganya pun dapat dilibatkan. Berbagai bentuk produk dan jasa ber-nilai jual itu yang biasa ditawarkan adalah produk-produk yang berhubungan dengan urusan perempuan dan benda-benda yang dikonsumsi secara bersama dalam keluarga.Item PEMETAAN DAN MODEL PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN DI KABUPATEN BENGKALIS DAN KEPULAUAN MERANTI PROVINSI RIAU(2012-10-29) Suryawati, Evi; Holiwarni, Betty; Irfan, Zul; Heleni, Susda; Hambali; Ibrahim, Bedriati; Gimin; Hadriana; Jalil, AbdulRendahnya mutu pendidikan di Indonesia, telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan. Berdasarkan hal tersebut perlu upaya terus menerus untuk meningkatkan mutu pendidikan, salah satu dengan melaksanakan kajian berdasarkan analisis permasalahan di lapangan. Tujuan Penelitian ini adalah : 1) mengidentifikasi Standar Kompetensi/ Kompetensi Dasar yang belum dikuasai peserta didik pada 9 mata pelajaran Ujian Nasional SMA (B. Indonesia, B. Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Geografi, Sosiologi dan Ekonomi); 2) Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab peserta didik belum menguasai standar kompetensi/kompetensi dasar 3) Merancang dan mengembangkan model untuk pemecahan masalah. Penelitian dilaksanakan di SMA Kabupaten Bengkalis dan Kepulauan Meranti dengan sampel SMAN 1 Bengkalis, SMAN Tebing Tinggi, dan SMAN Rangsang. Fokus penelitian adalah sistem manajemen, guru, sarana dan prasarana pendidikan, yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan serta budaya masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam kuesioner, dan dokumentasi. Analisis dilaksanakan secara deskriptif, Hasil analisis data sekunder menunjukkan. Ratarata perolehan hasil UN dengan nilai <55 pada tingkat rayon kelompok IPA tahun 2008/2009 sebesar 13.66 %, tahun 2009/2010 sebesar 15.71 %. Kelompok IPS 2008/2009 sebesar 17.83%, 2009/2010 sebesar 19.66 %. Penelitian ini menghasilkan alternatif model pemecahan masalah (1) Pelatihan bagi guru mata pelajaran berbasis MGMP. (2) Bimbingan dan pemantapan materi untuk guru yang mengajar tidak sesuai latar belakang pendidikan. (3) Pelatihan bagi pimpinan dan staf administrasi sekolah. Seluruh kegiatan siap diimplementasikan secara konkret melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat kerjasama D2PM DiktiItem PEMETAAN DAN PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN (PPMP) DI KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS PROPINSI KEPULAUAN RIAU(2014-02-26) Yustina; Gimin; Abdullah; Roza, Yenita; Fakhrudi; Auzar; Eliwarti; Ibrahim, Bedriati; KamarudinUpaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan, akan tetapi berbagai indikator mutu pendidikan masih belum terjadi peningkatan yang berarti. Ditinjau dari perolehan Ujian Nasional (UN) di Sekolah Menengah Atas (SMA) masih rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Dari sisi perilaku keseharian siswa, juga banyak terjadi ketidakpuasan masyarakat. Dari dunia usaha muncul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuasan berjenjang juga terjadi, di kalangan Perguruan Tinggi merasa bekal lulusan SMA belum cukup untuk mengikuti perkuliahan. Fakta tersebut menunjukkan, upaya peningkatan pendidikan yang selama ini dilakukan belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan di Indonesia. Solusi atas permasalahan rendahnya mutu pendidikan tersebut perlu dicari bersama. Semua pihak perlu turut bertanggung jawab secara moral apa yang harus dilakukan dan terobosan apa yang harus dijalankan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan. Peran Lembaga Penyelenggara Tenaga Kependidikan (LPTK) sangat menentukan terhadap kualitas pendidikan, karena LPTK merupakan lembaga penghasil tenaga guru. Tujuan program penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi ketuntasan dan ketidaktuntasan Standar Kompetensi (SK) maupun Kompetensi Dasar (KD) siswa SMA di Kabupaten Kepulauan Anambas dalam menyelesaikan soal Ujian Nasional berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun Pelajaran 2008/2009 - 2009/2010, (2) mengungkap peta kendala pendidikan dan faktor penyebabnya, dan (3) merumuskan model alternatif pemecahan masalah untuk meningkatkan kompetensi peserta didik terutama pada mata pelajaran UN di Kabupaten Kepulauan Anambas Propinsi Kepulauan Riau. Prosedur dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survey of Enacted Curriculum (SEC) serta analisis yang digunakan yakni deskriptif-eksploratif. Hasil penelitian didapati kendala pendidikan di Kabupaten Kepulauan Anambas adalah guru mengampu mata pelajaran tidak sesuai dengan keahliannya, kurangnya sarana dan prasarana (laboratorium IPA, buku teks, listrik, IT), rendahnya keterampilan pengembangan pendidikan oleh pendidik dan rendahnya kualifikasi akademik Kepala Tenaga Kependidikan, beban mengajar guru yang terlalu banyak, geografis wilayah dan kondisi alam, serta budaya ketidakpedulian orang tua dalam pengawasan peserta didik. Kelemahannya adalah kualifikasi akademik pendidik dan tenaga kependidikan tidak sesuai dengan jumlah, keahlian dan tugas yang diembannya. Kurangnya kemampuan dan keterampilan pendidik dalam mempersiapkan, pelaksanaan, penilaian, dan merefleksi pembelajaran. Manajemen Kepala Sekolah kurang dalam supervisi, koordinasi intern (pendidik dan tenaga kependidikan) dan dengan komite sekolah. Solusi yang diajukan adalah tingkatkan kualifikasi, profesional dan keterampilan pendidik dan tenaga kependidikan serta keterampilan pendidik dalam pengembangan program pendidikan untuk siswa, lengkapi sarana dan prasarana sekolah. Tingkatkan peran dan profesional supervisi Kepala Sekolah. Implementasikan kerjasama guru dalam kegiatan (pelatihan, guru tutor, lesson study, penelitian bersama) dalam wadah MGMP, K3S dan komite sekolah untuk pemanfaatan silang (antar sekolah) pendidik sesuai keahliannya, selanjutnya model alternatif untuk peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Kepulauan Anambas dapat dilakukan kerjasama time work pendidik dalam wadah MGMP difasilitasi K3S dan mitra pendamping melalui Strategi KONSEPItem Pemetaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan di Kabupaten Kepulauan Anambas Propinsi Kepulauan Riau(2012-10-29) Yustina; Gimin; Abdullah; Roza, Yenita; Fakhrudi; Auzar; Eliwarti; Ibrahim, Bedriati; KamarudinUpaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan, akan tetapi berbagai indikator mutu pendidikan masih belum terjadi peningkatan yang berarti. Ditinjau dari perolehan Ujian Nasional (UN) di Sekolah Menengah Atas (SMA) masih rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Dari sisi perilaku keseharian siswa, juga banyak terjadi ketidakpuasan masyarakat. Dari dunia usaha muncul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuasan berjenjang juga terjadi, di kalangan Perguruan Tinggi merasa bekal lulusan SMA belum cukup untuk mengikuti perkuliahan. Fakta tersebut menunjukkan, upaya peningkatan pendidikan yang selama ini dilakukan belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan di Indonesia. Solusi atas permasalahan rendahnya mutu pendidikan tersebut perlu dicari bersama. Semua pihak perlu turut bertanggung jawab secara moral apa yang harus dilakukan dan terobosan apa yang harus dijalankan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan. Peran Lembaga Penyelenggara Tenaga Kependidikan (LPTK) sangat menentukan terhadap kualitas pendidikan, karena LPTK merupakan lembaga penghasil tenaga guru. Tujuan program penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi ketuntasan dan ketidaktuntasan Standar Kompetensi (SK) maupun Kompetensi Dasar (KD) siswa SMA di Kabupaten Kepulauan Anambas dalam menyelesaikan soal Ujian Nasional berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun Pelajaran 2008/2009 - 2009/2010, (2) mengungkap peta kendala pendidikan dan faktor penyebabnya, dan (3) merumuskan model alternatif pemecahan masalah untuk meningkatkan kompetensi peserta didik terutama pada mata pelajaran UN di Kabupaten Kepulauan Anambas Propinsi Kepulauan Riau. Prosedur dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survey of Enacted Curriculum (SEC) serta analisis yang digunakan yakni deskriptif-eksploratif. Hasil penelitian didapati kendala pendidikan di Kabupaten Kepulauan Anambas adalah guru mengampu mata pelajaran tidak sesuai dengan keahliannya, kurangnya sarana dan prasarana (laboratorium IPA, buku teks, listrik, IT), rendahnya keterampilan pengembangan pendidikan oleh pendidik dan rendahnya kualifikasi akademik Kepala Tenaga Kependidikan, beban mengajar guru yang terlalu banyak, geografis wilayah dan kondisi alam, serta budaya ketidakpedulian orang tua dalam pengawasan peserta didik. Kelemahannya adalah kualifikasi akademik pendidik dan tenaga kependidikan tidak sesuai dengan jumlah, keahlian dan tugas yang diembannya. Kurangnya kemampuan dan keterampilan pendidik dalam mempersiapkan, pelaksanaan, penilaian, dan merefleksi pembelajaran. Manajemen Kepala Sekolah kurang dalam supervisi, koordinasi intern (pendidik dan tenaga kependidikan) dan dengan komite sekolah. Solusi yang diajukan adalah tingkatkan kualifikasi, profesional dan keterampilan pendidik dan tenaga kependidikan serta keterampilan pendidik dalam pengembangan program pendidikan untuk siswa, lengkapi sarana dan prasarana sekolah. Tingkatkan peran dan profesional supervisi Kepala Sekolah. Implementasikan kerjasama guru dalam kegiatan (pelatihan, guru tutor, lesson study, penelitian bersama) dalam wadah MGMP, K3S dan komite sekolah untuk pemanfaatan silang (antar sekolah) pendidik sesuai keahliannya, selanjutnya model alternatif untuk peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Kepulauan Anambas dapat dilakukan kerjasama time work pendidik dalam wadah MGMP difasilitasi K3S dan mitra pendamping melalui Strategi KONSEP.Item Pengaruh Pelatihan Dan Pendampingan Pengusaha Kecil Terhadap Motivasi Kerja(2017-10-12) GiminThis research aimed to investigate the extent to which training (X1), guiding (X2), relevant experience (X3), and level of education (X4) affect work motivation (Y) through work capability (X5) and role clarity (X6). The research samples were 94 (25%) from 372 small-scale leather enterpreneurs in the Province of Yogyakarta using proportional quota sampling through interview. Data were analyzed using path analysis with 5% significance level. Through multiple regression, it was revealed that X1, X2, X3, X4, X5 and X6 together effected Y significantly with the effective contribution 65,5%. Through path analysis, X5 affeced Y directly with affective contribution 31,5%. X1 and X3 affected Y directly and indirectly (through X5) with affective contribution 16,3% and 9,9% respectively X2, X4 and X6 did not affect Y significantly. X2 and X4 directly affected X6 with affective contribution 5,3% and 4,1% respectively, but three of them did not affect Y significantly. Specifically on X6, it is also affected directly by X5 with affective contribution 15,7%. While X5 having direct influence (the highest) on Y in fact was determined by X1 and X3 with effective contribution 16,8% and 4,3% respectively. Therefore, it is suggested that small-scale entrepreneurs follow training, enhance relevant experiences for increase their motivation and improve their business.Item Pengembangan Technopreneur Di Universitas Riau(2017-09-18) Sumarno; Saryono; GiminSuatu negara akan mampu membangun kesejahteraan masyarakatnya apabila memiliki wirausahawan minimal 2%. Menurut Menteri Koperasi dan UKM, jumlah wirausahawan di Indonesia masih sekitar 1,6%. Untuk itu perlu dikembangkan pendidikan kewirausahaan mahasiswa berbasis technopreneurship untuk dapat menghasilkan wirausahawan yang berdayasaing tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan pendidikan kewirausahaan mahasiswa berbasis technopreneurship. Penelitian dilakukan di Universitas Riau, Pekanbaru, Indonesia. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang memiliki rencana usaha sesuai bidang ilmu akademiknya rata-rata hanya 5%. Hal itu disebabkan belum adanya koordinasi dan sinergi dalam program dan pelaksanaan pendidikan kewirausahaan, baik di tingkat universitas, fakultas, maupun jurusan/prodi. Dosen Mata Kuliah Prodi/Jurusan belum banyak menekankan kemampuan mahasiswa pada aspek penemuan/penciptaan ide-ide kreatif/inovatif sesuai bidang ilmunya, sementara dosen Mata Kuliah Kewirausahaan hanya menanamkan wawasan dan minat kewirausahaan. Unit dan program pendukung pendidikan kewirausahaan juga belum mampu membatasi pada bidang usaha yang sesuai ilmu akademik mahasiswa pesertanya karena akan kesulitan mencapai kuota. Pendidikan Kewiraausahaan Mahasiswa perlu dikembangkan dalam satu sistem terintegrasi mulai dari tingkat universitas hingga jurusan/prodi serta unit-unit pendukungnya dengan melibatkan semua dosen, baik dosen kewirausahaan maupun dosen non-kewirausahaan. Keseluruh komponennya mengarah pada kreatifitas dan inovasi mahasiswa berdasar bidang ilmu akademiknya (technopreneurship).Item Pengembangan Model Learner-Centered Micro Teaching Melalui Peran Kelompok Untuk Meningkatkan Kemahiran Mengajar Mahasiswa Universitas Riau(2017-10-12) Kartikowati, Sri; Gimin; Haryana, GaniPenelitian dengan pendekatan ‘research and development’ ini bertujuan mengembangkan Model ‘Learner Centered Micro Teaching’ (LCMT) melalui peran kelompok dalam rangka meningkatkan kemahiran mengajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi. Dengan merujuk pada desain baru, Model CMT +)Kelompok, test dilakukan dua kali terhadap 12 orang mahasiwa yang mengikuti perkuliahan Micro Teaching di Universitas Riau pada semester pertama tahun 2013-2014. Data diperoleh melalui latihan mengajar yang dimulai dari tahap persiapan, aplikasi, perekaman (rekaman video), review rekaman, dan refleksi atas hasil review. Analisis data dilakukan secara kuantitatif atas skor data observasi yang diperoleh dari rekaman latihan mengajar sebelum dan sesudah menggunakan Model LCMT +)Kelompok kemudian dihitung dengan formula T-test pada tingkat kepercayaan 95%. Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan teknik interaktif terhadap data yang dikumpulkan melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara skor kemahiran mengajar sebelum dan setelah menerapkan Model LCMT +)Kelompok. Dianjurkan untuk mulai menyusun Buku Manual Micro Teaching dalam rangka memfasilitasi peningkatan kemahiran mengajar mahasiswa.Item Penggunaan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Untuk Meningkatkan Aktivitas Oral Mahasiswa Pada Perkuliahan Sejarah Teori Ekonomi(2017-10-12) Gimin; Haryana, Gani; KartikowatiDalam mata kuliah "sejarah teori ekonomi", banyak aliran yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah ekonomi dengan alasan masing-masing. Oleh karena itu agar mata kuliah ini berhasil, mahasiswa harus diarahkan memiliki Aktivitas oral yang tinggi. Disisi lain, penomena memperlihatkan rendahnya aktivitas oral mahasiswa di Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Riau. Sehubungan dengan kondisi tersebut, penelitian ini diaksudkan untuk mengetahui "Apakah penggunaan model pembelajaran "every one is a teacher here" dapat meningkatkan Aktivitas oral mahasiswa yang mengikuti kuliah sejarah teori ekonomi. Penelitian dilakukan pada perkuliahan Sejarah Teori Ekonomi tahun ajaran 2013/2014, menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas sebanyak 3 siklus. Data dua variable penelitian ini dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif berupa tabel dan grafik. Hasil penelitian menyimpulkan Aktivitas oral mahasiswa selama 3siklus meningkat masing-masing sebesar 31,11%, 38,89%, dan 42,78% dari skor idealnya. Kondisi ini ternyata seiring dengan perkembangan skor penerapan model pembelajaran “every one is a teacher here” yang dilakukan oleh dosen, masing-masing sebesar 72,22%, 86,22%, dan 88,89% dari skor idealnya. Kondisi meningkatnya skor kedua variabel yang seiring menunjukkan penggunaan model pembelajaran "every one is a teacher here" yang baik dapat meningkatkan Aktivitas oral mahasiswa.Item A Planning Design of Micro-Teaching Course (Study from University of Riau – Indonesia)(2017-10-12) Gimin; Kartikowati, Sri; Haryana, GaniMicro-Teaching is known as a teaching laboratory to create future professional teachers. It is pointed that Micro-Teaching is essential. Unfortunately, the courses of Micro-Teaching are taught by a number of lecturers with varied syllabus. This study is intended to provide a Planning design to Micro-Teaching courses that will be used as a standard guideline lecturing in the Department of Economics Education Faculty of Education in Riau University. Data is gained from study literature and is analyzed by doing emphasis on content analysis technique and further supported by interview and Focus Group Discussion (FGD) techniques. We found that the Planning Design is basically encompasses four elements that must be performed sequentially: Micro teaching comprehension; Observing learning models, Preparing Lesson plan, and Practicing the 11 teaching skills. Those 4 elements are set in the syllabus document of Micro Teaching which is presented across 16 times of learning activities.Item SIKAP ILMIAH SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH PADA KONSEP PESAWAT SEDERHANA DIKELAS VIII. 6 SMPN 08 PEKANBARU(2013-01-29) GiminMODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH PADA KONSEP PESAWAT SEDERHANA DIKELAS VIII. 6 SMPN 08 PEKANBARU G i m i n1, Zuhdi Ma’aruf 2 Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau ABSTRACT This study aimed to describe the scientific attitudes of students, through the application of learning based on the concept of a simple plane problems. Subjects in the study were 08 junior high school students of class VIII.6 Pekanbaru, Lesson year 2010/2011, which amounts to 10 people from 35 people, men and women's 5 people or 5 people that are the focus of observation 2 groups were selected at random from 7 groups there. Instrument data collection by observing the scientific attitude of students who appeared during the learning process takes place descriptive data analysis of the results showed that, the percentage of scientific attitude of students on average each meeting first, second and third was 74%, 84%, 95%, an increase that percentage of data obtained from the 5 aspects of scientific attitude of students was observed in three meetings to obtain the average is 84% with a high category. Thus the application of problem-based learning can be trained scientific attitude of students.Item System Of Education Financial Recording (Empirical Study At “Smk Labor” Fkip Of Riau University)(2017-10-12) Gimin; Kartikowati, SriMany schools count the cost of educating each student for one year (unit cost) as a measure of efficiency, but the phenomenon shows cannot describe the real costs are charged to period. This study analyzed the system of financial recording for education, formula calculation unit cost, and amount of unit cost. The study was conducted on "SMK Labor" FKIP of Riau University. Main data was in the form of documents, and more focus information gathered by interviews to some key source persons. Data was analyzed descriptively, classified based on subject-matters.The study found "SMK Labor" FKIP of Riau University perform financial recording system using a cash basis on RKAS (School Budget and Activity Plan). This school uses a formula calculating the unit cost "all expenses paid by each student is reduced BOS funds for each student until graduation divided the study period". Unit cost "SMK labor" FKIP of Riau University is unstable, that is Rp2.460.000 in 2014, increase to Rp2.520.000 in 2015 and 2016. The formula calculation unit cost "SMK labor" less reflecting the cost real of education was charged to students because the school has not added any reduction in the value of fixed assets of the school, such as depreciation of equipment, and others. Therefore it is necessary to develop the appropriate accounting model of education.