6.Seminar Nasional Teknik Kimia Topi Tahun 2012
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing 6.Seminar Nasional Teknik Kimia Topi Tahun 2012 by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 35
Results Per Page
Sort Options
Item Penyerapan Ion Logam Kadmium Pada Tanah Gambut(2013-05-04) Reni Yenti, Silvia; Munaf, E; Zein, RMasalah pencemaran lingkungan dari logam berat dapat menimbulkan dampak yang membahayakan kehidupan manusia. Pada penelitian ini variabel yang ditentukan adalah pH ion logam kadmium 3-8, ukuran partikel 150-142μm, konsentrasi ion logam kadmium 20-50 ppm, massa biosorben 0,5-2 g. Manfaat dari penelitian penyerapan ion logam kadmium pada tanah gambut dapat dipakai sebagai adsorban alternatif. Penyerapan kadmium oleh gambut (0,5 g) diperoleh pada ukuran partikel tanah gambut 150 μm, pH ion logam 5, konsentrasi ion logam 20 ppm. Kapasitas serapan maksimum ion logam kadmium dengan 1,04 mg/L. Efisiensi penyerapan ion logam kadmium pada tanah gambut 95,36 %, dan efisiensi penyerapan ion logam kadmium pada asam humat 98,55 %. Aplikasi gambut sebagai penyerapan ion logam kadmium dalam air limbah sebesar 98,77%, sedangkan efisiensi penyerapan ion logam kadmium dalam air limbah dengan asam humat standar sebesar 99,19% .Item Kinetika Reaksi Abu Sawit dengan NaOH(2013-05-04) Aman; Reny Yenti, SilviaAbu sabut sawit merupakan sumber silika yang cukup potensial tetapi belum banyak termanfaatkan. Proses ekstraksi reaktif silika dalam abu sabut sawit dengan menggunakan pelarut NaOH merupakan salah satu cara untuk mendapatkan silika dengan kemurnian yang tinggi. Dibandingkan dengan metode lain proses ini memiliki keunggulan yaitu dapat dihasilkannya silika dengan kemurnian yang tinggi dan suhu proses yang relatif rendah. Dalam proses tersebut dijumpai sistem heterogen yang melibatkan perpindahan massa padat-cair dan reaksi kimia. Proses ekstraksi reaktif silika dari abu sabut sawit dengan pelarut NaOH dapat dilakukan secara batch pada reaktor tangki berpengaduk. Mula-mula larutan NaOH dimasukkan dalam tangki dan dipanaskan dalam waterbath dengan variasi suhu 80, 92,dan 105 oC Kemudian abu sabut sawit dimasukkan dalam reaktor dan diaduk pada kecepatan pengadukan 500 rpm. Setiap selang waktu 20 menit cuplikan diambil dan dianalisa kadar Silikonnya (Si) dengan AAS. Variabel yang dipelajari adalah variasi suhu pada kisaran 80 oC sampai dengan 105 oC. Pada percobaan ini proses ekstraksi silika dapat didekati dengan model reaksi homogen semu orde satu terhadap NaOH, dengan kesalahan relatif rata-rata sekitar 2 %. Konstanta kecepatan reaksi over all pada kisaran suhu percobaan dapat didekati dengan persamaan Arrhenius.Item ANALISIS PELABUHAN KARGO BENGKALIS DITINJAU DARI SUDUT KELAYAKAN EKONOMI(2013-05-06) Taufik, Hendra; RinaldiBengkalis merupakan daerah kepulauan yang berada pada tepi alur pelayaran internasional yang paling sibuk di dunia dan juga berada pada segitiga pertumbuhan ekonomi Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS-GT) dan kawasan segitiga pertumbuhan ekonomi Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT). Oleh karena itu sarana dan prasarana transportasi laut memegang peranan penting dalam menggerakkan berbagai potensi yang ada di Kabupaten Bengkalis. Dalam mencapai visi Kabupaten Bengkalis “Menjadi salah satu pusat perdagangan di Asia Tenggara dengan dukungan industri yang kuat dan sumberdaya manusia yang unggul, guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan makmur tahun 2020” pengembangan sarana dan prasarana bidang transportasi laut khususnya, merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian visi tersebut. Pembangunan Pelabuhan kargo merupakan salah satu cara untuk mewujudkan misi tersebut, untuk itu akan dibangun suatu pelabuhan kargo yang akan menjadi pusat perekonomian Bengkalis, penelitian ini mengkaji layak atau tidaknya pelabuhan kargo tersebut dibangun berdasarkan analisa ekonomi, sehingga akan dihasilkan suatu rekomendasi kepeda pihak terkait. Indikator kelayakan investasi yaitu NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate Return), BCR (Benefit Cost Ratio), dan BEP (Break Even Point) serta analisa sensitivitas sedangkan hasil hitungan pada penelitian ini menggunakan pendekatan perkiraan (approximate estimate). Hasil perhitungan biaya investasi pada penelitian ini adalah Rp.75.390.803.010,00, dengan menggunakan suku bunga sebesar 8% didapatkan nilai NPV=Rp.18.646.457.190,00, nilai BCR=1,14, nilai IRR=9,53%, dan nilai BEP=13,33 tahun (umur rencana proyek=20 tahun) serta analisis sensitivitas investasi (Rp.60.312.642.410,00-Rp.78.959.099.600,00), pendapatan (Rp.153.248.685.860,00 - Rp.134.602.228.670,00), pengeluaran (Rp.78.001.9362.920,00-Rp.92.936.043.450,00), serta sensitivitas suku bunga (8%-9,48%) dengan hasil analisa kelayakan investasi diatas maka semua parameter menunjukkan investasi tersebut layak untuk diteruskan.Item PEMILIHAN ALTERNATIF PERBAIKAN LERENG MELALUI PENDEKATAN “VALUE ENGINEERING”(2013-05-07) Sandyavitri, Ari; Taufik, HendraSlope failures and rockfall present significant hazards, including damage to retaining walls, highway infrastructure, blocking of drainages, and loss of bridges infrastructures. There is a need decision support frameworks based on geotechnical asset management principles for effective slope remedy procedure. This research objectives are to; (i) identification the steep slopes prone to rockfall/erosion along Lintas Tengah Sumatra from Pekanbaru (Riau Province) – Solok (West Suatra Province) via “Jalur Lintas Tengah Sumatra highway” encompassing 260 Km; and (ii) developing technical approach to remedy the slopes and (iii) establishing procedure in prioritizing slopes remedy based on value engineering technique. This research identified 65 prone to erosion and rockfall events. Approximately, 15 slopes were identified as high-risk slopes with RHRS scores of >300 points. According to value engineering approach, technical and economical aspects shuld be put into consideration in order to address issues of highway safety in a systematic procedure as well as efficient in use of limited budgets. Value engineering approach may suggest to remedy slopes within this road section at the following order.Item Pirolisis Tandan Kosong Sawit Menjadi Bio-Oil dengan Katalis CoMo/ZSM-5(2013-05-07) Sunarno; Bahri, Syaiful; Saputra, EdyKebutuhan akan sumber energi yang terus meningkat dan cadangan minyak bumi sebagai sumber energi utama yang terus menipis menjadi alasan utama betapa pentingnya mencari sumber energi alternatif pengganti minyak bumi. Biomassa khususnya tandan kosong sawit yang melimpah terdapat di Indonesia dapat diproses menjadi bio-oil melalui proses pirolisis. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh rasio katalis CoMo/ZSM-5 dengan tandan kosong sawit (0, 1, 2, 3, 4%) dan suhu (290, 300, 310, 320 0C) terhadap yield bio-oil yang dihasilkan serta karakterisasi bio-oil pada proses yang optimal. Tahap penelitian meliputi sintesis katalis CoMo-ZSM5, pirolisis tandan kosong sawit dan analisa hasil. Sintesis ZSM-5 dijalankan pada reaktor autoclave pada suhu 1750C, Si/Al 30 dan waktu sintesis 18 jam. Pirolisis tandan kosong sawit dengan menggunakan reaktor slurry yang dilengkapi dengan kondensor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi suhu maka yield bio-oil makin besar. Pada penelitian ini diperoleh yield terbesar yaitu 71,6% yang terjadi pada suhu 3200C dan konsentrasi katalis 3%. bio-oil yang dihasilkan pada proses iniItem Evaluasi Performance Heat Exchanger 211/212 E-6 dan 211/212 E-7, di Hydrocracking Complex (HCC) PT. Pertamina RU II Dumai(2013-05-07) Talis, Salmiati; Nirwana; Al Rasyid, HarunHeat Exchanger 211/212 E-6 dan 211/212 E-7 di Hydrocracking Complex (HCC) PT. Pertamina RU II Dumai, adalah serangkaian Heat Exchanger yang digunakan untuk memanaskan efluent reaktor dari 211/212 V-10 sebelum memasuki debutanizer 211/212 V-12. Efluent reaktor yang bersuhu 72,8oC dipanaskan ke dalam Heat Exchanger 211/212 E-6, dengan media pemanas diesel diperoleh suhu keluaran sebesar 119,2 oC. Kemudian efluent reaktor dipanaskan kembali ke dalam 211/212 E-7 dengan media pemanas heavy kero pumparound. Suhu keluaran 211/212 E-7 sebesar 162,75 oC melebihi suhu media pemanasnya yaitu 154,01oC. Kondisi ini tentu saja mempengaruhi sistem perpindahan di fraksinator yang akan berpengaruh pada produk yang dihasilkan. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi performa Heat Exchanger 211/212 E-6 dan 211/212 E-7 karena keduanya mengalami penurunan kemampuan kerja yang disebabkan oleh masa pakai yang telah mencapai lebih dari 20 tahun. Evaluasi dilakukan dengan cara menghitung kondisi operasi berupa dirt factor dan pressure drop secara aktual dan selanjutnya dibandingkan dengan nilai desain. Dari perhitungan untuk 211/212 E-6 diperoleh dirt factor sebesar 1,547x10-3BTU/jam.ft2.oF ,dan presure drop pada shell sebesar 0,012 kg/cm2, pada tube 0,02 kg/cm2. Sementara perhitungan pada 211/212 E-7 diperoleh dirt factor sebesar 3,739x10- 3 BTU/jam.ft2.oF ,dan presure drop pada shell sebesar 0,082 kg/cm2, pada tube 0,094 kg/cm2. Hasil ini lebih kecil dari yang diizinkan pada data desain, yaitu untuk 211/212 E-6, dirt factor sebesar 0,027287BTU/jam.ft2.oF, pressure drop pada shell sebesar 0,35 kg/cm2 dan , pressure drop pada tube sebesar 0,35 kg/cm2. Sementara data desain untuk 211/212 E-7, dirt factor sebesar 0,027287BTU/jam.ft2.oF, pressure drop pada shell sebesar 0,7 kg/cm2 dan , pressure drop pada tube sebesar 0,7 kg/cm2. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua Heat Exchanger ini masih dalam keadaan baik dan layak dipakai.Item Prediksi Tingkat Pencemaran Karbonmonoksida Dari Sumber Transportasi Dengan Menggunakan Model Caline 4(2013-05-07) Hafidawati; Surtia Bachtiar, VeraPembangunan fisik kota dan berdirinya pusat-pusat industri akan disertai melonjaknya aktivitas transportasi. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan aktivitas transportasi yang memberikan dampak terjadinya peningkatan polutan di udara. Proses pembakaran bahan bakar minyak akan mengeluarkan unsur dan senyawa-senyawa pencemar ke udara, seperti Padatan Total Tersuspensi (TSP), Karbon Monoksida (CO) Total Hidrokarbon (THC), Oksida-oksida nitrogen (NOx), Oksida-oksida Sulfur (SOx), Partikel Timbal (Pb) dan Oksidan fotokimia. Dari pencemar udara tersebut Karbon monoksida (CO) merupakan senyawa paling banyak dihasilkan dari emisi kendaraan bermotor. Konsentrasi CO di atmosfer dapat diprediksi dengan melakukan sampling di udara ambien ataupun menggunakan model komputer Salah satu model yang digunakan untuk memprediksi konsentrasi polutan CO di udara adalah Caline 4. Model Caline 4 ini adalah salah satu program komputer untuk permodelan dispersi CO yang diemisikan dari sumber bergerak (kendaraan bermotor). Studi kasus penerapan model ini dilakukan di empat ruas jalan utama di Kota Padang yang tingkat aktivitas kendaraannya padat yaitu di jalan M. Yamin, Pasar Raya, Bgd. Azis Khan, Rasuna Said dengan 34 titik sampling. Jumlah kendaraan terukur pada masing-masing jalan tersebut adalah 2.856 buah di jalan M. Yamin, 875 buah di Pasar raya, 2.340 buah di jl. Bgindo Azis khan, dan 3.081 buah di jalan Rasuna Said. Hasil prediksi dengan model Caline 4 di peroleh hasil bahwa konsentrasi CO tertinggi adalah di jalan M. Yamin yaitu sebesar 0.8 ppm. Validasi hasil prediksi model dilakukan dengan membandingkan dengan hasil sampling udara ambien yang dilakukan dengan metode absorbsi menggunakan impinger. Validasi dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi dan analisis T test dengan selang kepercayaan 95% dan 0.05 didapatkan nilai t yang berada dalam wilayah penerimaan.Item Studi Konversi Pelepah Nipah menjadi Bio-Oil dengan Katalis Natural Zeolite deAluminated (NZA) pada Proses Pyrolysis(2013-05-14) Fitra, Adrian; Bahri, Syaiful; SunarnoBio-oil diproduksi dengan proses pyrolysis menggunakan biomassa dengan pemanasan, tanpa adanya kandungan oksigen. Penelitian ini mempelajari pengaruh variasi katalis terhadap yield bio-oil yang dihasilkan, mengetahui nilai densitas, viskositas, angka keasaman dan titik nyala dari bio-oil serta mengetahui komponen kimia pada bio-oil dengan metode GC-MS. Pyrolysis dilakukan dengan pelepah nipah sebanyak 50 gram beserta 500 ml silinap dengan variasi katalis NZA 0%, 1%, 2%, 3%, dan 4% b/b biomassa dengan kecepatan pengadukan 300 rpm dan suhu 320ºC selama 120 menit. Yield yang terbesar diperoleh pada variasi katalis NZA 3% sebesar 43,4%. Sifat bio-oil yang diperoleh: densitas 1,048 gr/ml, viskositas 8,258 cSt, angka keasaman 87,52 gr NaOH/gr sampel, serta titik nyala 58 0C. Dan analisa GC-MS, komponen kimia yang dominan pada bio-oil adalah acetic acid (40,90%); methanol (9,60%); methyl ester (2,30%); phenol (32,88%); 2-furancarboxaldehyde (8,98%) .Item Transesterifikasi Minyak Biji Bintaro dengan ZnO Catalyst Guard Komersial(2013-05-14) Helianty, Sri; Zahrina, IdaProses biodiesel berbahan baku minyak nabati non pangan, seperti minyak biji bintaro (Cerberra odollam), diperlukan untuk mengurangi penggunaan minyak nabati pangan. Katalis heterogen seperti ZnO akan menyederhanakan reaksi transesterifikasi minyak biji bintaro, memudahkan pemisahan katalis dari keluaran reaktor dan mengurangi limbah prosesnya. Penelitian ini ditujukan untuk men-transesterifikasi minyak biji bintaro dengan katalis ZnO catalyst guard komersial. Percobaan transesterifikasi ini diselenggarakan dalam reaktor batch tertutup bertekanan autogenus pada temperatur 373 K selama 4,5 dan 6 jam dengan nisbah minyak biji bintaro terhadap metanol dalam umpan 1:12 w/w. Katalis ZnO komersial ditambahkan ke dalam campuran reaksi sebanyak 5%w-umpan. Selama transesterifikasi berlangsung, campuran reaksi diaduk dengan kecepatan 350rpm. Hasil percobaan pada 4,5 dan 6 jam menunjukkan adanya kenaikkan yield biodiesel, yaitu 13,57%, 22,56% dan 34,52%. Berdasarkan hasil pengujian densitas,visikositas kinematik, angka asam dan flash point, karakteristik biodiesel minyak biji bintaro yang dihasilkan adalah sebagai berikut : densitas 844-909 kg/m3, visikositas kinematik 5,99-9,01 cSt, angka keasaman 0,026-0,039mg KOH/g dan flashpoint 128-154 0C.Item Catalytic Cracking Cangkang Sawit Menjadi Bio-Oil dengan Katalis Ni/Zsm-5 dalam Reaktor Slurry(2013-05-14) Sunarno; Bahri, Syaiful; Iwan Fermi, Muhammad; Widiyanto, RahmanIndonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia dengan luas perkebunan sawit 9,7 juta hektar dengan total produksi 19,8 juta ton pada tahun 2010. Produksi sawit Indonesia yang tinggi menyebabkan penumpukan limbah padat sawit yang menjadi ancaman pencemaran lingkungan. Salah satu limbah padat dari sawit adalah cangkang sawit. Limbah cangkang sawit dihasilkan sekitar 6-7% dari tandan buah segar. Dalam cangkang sawit tersusun atas senyawa lignin(21%), selulosa(40%) dan hemiselulosa(24%). Senyawa tersebut dapat dicracking menjadi bio oil sebagai alternative energi terbaharukan. Pada penelitian ini proses catalytic cracking cangkang sawit dengan menggunakan katalis Ni/ZSM-5 dan thermo-oi sebagai media pemanas. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kondisi optimum catalytic cracking cangkang sawit dengan katalis Ni/ZSM-5 dan mengkarakterisasi bio-oil yang dihasilkan. Variabel yang dipelajari suhu operasi (290, 300, 310 dan 3200C) dan rasio katalis/biomass (1,2,3 dan 4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa yield bio-oil optimum pada suhu 3100C rasio katalis NiZSM-5/Biomass 3% adalah 58,7%. Hasil karakterisasi bio-oil secara fisika diperoleh densitas 0,981 gr/ml, viskositas 12,98 cSt, angka keasaman 80,3 grNaOH/gr sampel, titik nyala 520C dan nilai kalor 43,31 MJ/Kg. Hasil analisa GC-MS menunjukkan komponen utama dalaItem A.Daftar isi(2013-05-14)Item Pembuatan Biodiesel Menggunakan Katalis Kalsium Asetat Yang Dikalsinasi(2013-05-14) Helza Yanti, Pepi; awaluddin, Amir; Sartika, PutriMeningkatnya kebutuhan akan bahan bakar yang tidak didukung dengan ketersediaan sumber daya menyebabkan terjadinya kelangkaan dan krisis energi. Maka untuk menanggulangi keterbatasan ini salah satunya adalah dengan menggunakan biodiesel sebagai sumber energi alternatif terbarukan yang berasal dari minyak nabati, yang ditransesterifikasi menggunakan metanol dengan bantuan katalis. Katalis merupakan suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi kimia. Katalis yang sering digunakan dalam produksi biodiesel adalah katalis basa dalam fasa homogen seperti KOH dan NaOH. Selain katalis homogen, katalis heterogen juga dapat digunakan dalam proses pembuatan biodiesel, karena katalis ini memiliki keunggulan dalam proses pemisahan katalis.Pada penelitian ini digunakan katalis CaO denganbeberapa variabel yang meliputi suhu kalsinasi katalis, suhu reaksi, waktu reaksi, konsentrasi katalis dan variasi mol metanol terhadap minyak yang berasal dari kalsinasi kalsium asetat dan minyak kelapa sebagai bahan baku. Hasil Penelitian menunjukkan jumlah biodiesel yang dihasilkan 77,186% dengan suhu kalsinasi optimum 9000C, suhu reaksi 70 0C, waktu reaksi 120 menit, rasio mol metanol terhadap minyak kelapa 6:1 dengan jumlah katalis CaO 1 % . Uji karakteristik diperoleh harga viskositas biodiesel 2,72 cSt, bilangan asam 0,282 mg KOH/gr, massa jenis 864,7 kg/m3, kandungan air 0,049%, titik nyala 1250C. Nilai tersebut tidak melebihi dari nilai yang telah ditetapkan oleh SNI biodiesel. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka kalsium oksida ini dapat digunakan sebagai katalis untuk menghasilkan biodiesel.Item Pemanfaatan Energi Surya Fotovoltaik Sebagai Cadangan Energi Listrik di Laboratorium Rangkaian Listrik Fakultas Teknik Universitas Riau(2013-05-14) NurhalimPanel surya dirancang secara paralel agar menghasilkan arus yang besar dan tingkat tegangan keluaran yang sesuai dengan tegangan masukan regulator. Panel surya yang disusun menghasilkan sebuah modul surya dengan kapasitas 320 Wp dan arus 18,52 A. Pengujian modul surya beban nol menghasilkan tegangan keluaran maksimum 19,58 VDC dan tegangan minimun 18,01 VDC. Pengujian modul surya berbeban untuk pengisian bank beterai menghasilkan tegangan minimum 18,29 VDC, tingkat tegangan ini sangat sesuai sebagai masukan tegangan regulator.Item Pengaruh Laju Pembebanan Organik terhadap Produksi Biogas dari Limbah Cair Sagu Menggunakan Bioreaktor Hibrid Anaerob(2013-05-15) Yunitamel, Lusy; Ahmad, Adrianto; Zahrina, IdaProduksi sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti dapat mencapai 450.000 ton pertahun. Peningkatan produksi pati sagu diikuti dengan peningkatan jumlah limbah cair sagu yang dihasilkan. Dalam memproduksi pati sagu dibutuhkan 20.000 liter air per ton sagu, yang mana 94% air tersebut akan menjadi limbah cair. Limbah cair tersebut mempunyai kadar COD yang tinggi yaitu sebesar 50.000 mg/L dan berpotensi untuk dikonversi menjadi biogas. Salah satu cara pengolahan limbah cair sagu tersebut menjadi biogas dengan menggunakan bioreaktor hibrid anaerob yang merupakan penggabungan antara sistem pertumbuhan tersuspensi dan sistem pertumbuhan melekat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju pembebanan organik optimum dengan produksi biogas yang tinggi menggunakan bioreaktor hibrid anaerob bervolume kerja 10 L dan menggunakan media batu. Penelitian ini memvariasikan laju pembebanan organik yaitu 12,5; 16,7; 25 dan 50 kgCOD/m3hari dan dikondisikan pada suhu ruangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pembebanan organik berpengaruh terhadap produksi biogas. Produksi biogas optimum yaitu pada laju pembebanan organik 25 kgCOD/m3hari, biogas yang dihasilkan pada saat tunak yaitu pada hari ke 12 sebesar 41.600 ml.Item Penyisihan Kandungan Padatan Limbah Cair Pabrik Sagu Dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob Pada Kondisi Start-up(2013-05-15) Ul Fadhli, Taufiq; Ahmad, Adrianto; YelmidaLimbah cair sagu meningkat seiring dengan perkembangan industri sagu di Indonesia. Limbah cair sagu bersifat asam, berbau busuk dan memiliki konsentrasi padatan yang tinggi. Padatan adalah salah satu parameter dalam mengidentifikasi tingkat pencemaran suatu limbah cair. Padatan limbah cair pabrik sagu dapat berupa padatan organik dan anorganik. Padatan organik umumnya dapat didegradasi oleh mikroorganisme, sementara padatan anorganik sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Oleh karena itu, limbah cair sagu ini perlu penanganan terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air atau perairan. Penanganan padatan dari limbah cair pabrik sagu dapat dilakukan secara anaerob menggunakan bioreaktor hibrid anaerob bermedia batu. Keberhasilan bioreaktor ini dalam mengolah limbah cair tergantung pada strategi melakukan start-up bioreaktor. Penelitian ini bertujuan untuk menyisihkan dan mendapatkan tingkat penurunan kandungan padatan limbah cair sagu pada kondisi start-up. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses start-up bioreaktor hibrid anaerob berlangsung selama 57 hari dengan WTH 2 L/hari, kondisi operasi suhu ruang dan pH rata rata 6,0. Efisiensi penyisihan TS sebesar 63 %, TVS sebesar 43 %, TSS sebesar 60 % dan VSS sebesar 61 %. Hal ini menunjukkan bahwa bioreaktor hibrid anaerob bermedia batu baik dalam menyisihkan kandungan padatan limbah cair pabrik sagu.Item Efisiensi Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) Limbah Cair Pabrik Sagu dan Produksi Biogas Menggunakan Bioreaktor Hibrid Anaerob Pada Kondisi Start Up(2013-05-15) Lestari, Azian; Ahmad, Adrianto; Zahrina, IdaPerkembangan industri pati sagu diikuti dengan peningkatan limbah cair sagu yang dihasilkan. Dalam memproduksi pati sagu dibutuhkan 20.000 liter air per ton sagu, yang mana 94% air tersebut akan menjadi limbah cair sagu. Limbah cair sagu ini memiliki nilai COD (Chemical Oxygen Demand) mencapai 100.000 mg/l. Kondisi ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu cara menurunkan kandungan COD yaitu dengan menggunakan bioreaktor hibrid anaerob. Kondisi Start up merupakan salah satu kondisi yang penting dalam pengolahan limbah cair menggunakan bioreaktor hibrid anaerob, karena pada kondisi ini terjadi pengembangbiakan mikroorganisme untuk mencapai tunak. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap kondisi start up bioreaktor hibrid anaerob dengan mengamati paramter COD dan biogas yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan laju alir 2 l/hari pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan COD yang terbesar diperoleh 92% dengan pH operasi 6,2 serta produksi biogas sebesar 14982 ml/hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa start up bioreaktor hibrid anaerob berlangsung selama 57 hari.Item Kajian Aklimatisasi Proses Pengolahan Limbah Cair Pabrik Sagu Secara Anaerob(2013-05-15) Priyono, Agus; Ahmad, Adrianto; BahruddinKabupaten Kepulauan Meranti terkenal sebagai salah satu penghasil tepung sagu terbesar di Indonesia. Kabupaten Kepulauan Meranti memproduksi 440.000 ton tepung sagu/tahun. Setiap 1 ton tepung sagu menghasilkan 200.000 liter limbah cair sagu/ton tepung sagu, sehingga diperkirakan akan menghasilkan limbah cair sagu 88.000.000 liter/tahun. Limbah cair sagu memiliki komposisi bahan organik yang tinggi, sehingga jika dibuang ke perairan maka akan menyebabkan pencemaran air dan menurunkan kualitas perairan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan penanganan secara anaerob. Pengolahan secara anaerob pada dasarnya atas bantuan bakteri. Bakteri perlu dilakukan proses pembibitan dan aklimatisasi sebelum dilakukan pengolahan anaerob. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh waktu aklimatisasi terhadap produksi biogas, pH, konsentrasi biomassa (VSS), dan kinetika pertumbuhan. Penelitian dilakukan menggunakan bioreaktor anaerob dengan volume 20 L pada kondisi operasi suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses aklimatisasi berlangsung selama 11 hari dan pH rata-rata 7,2. Konsentrasi biomassa rata-rata selama proses aklimatisasi sebesar 0,212 g/L. Biogas yang dihasilkan rata-rata sebesar 1895 mL/hari, sedangkan laju pertumbuhan spesifik (μ) sebesar 0,0931. Dengan demikian, bakteri anaerob dapat digunakan pada proses pengolahan limbah cair sagu.Item Fermentasi Nira Nipah (Nypa fruticans Wurmb) menjadi Bioetanol Menggunakan Khamir Pichia stipitis dalam BIOFLO 2000 FERMENTOR(2013-05-15) Chairul; Hafidawati; Jenova, FebrioKonsumsi etanol dunia untuk berbagai penggunaan mengalami peningkatan yang sangat signifikan beberapa tahun belakangan ini. Oleh sebab itu diperlukan adanya sumber alternatif bahan baku pembuatan bioetanol sehingga produksi bioetanol dapat ditingkatkan. Nira nipah merupakan salah satu bahan yang sangat potensial untuk diolah menjadi bioetanol. Ketersediaan lahan nipah yang cukup luas di Indonesia serta kandungan gulanya yang cukup tinggi (15-20%) menjadikan nira nipah sangat berpotensi untuk diolah menjadi bioetanol. Melalui proses fermentasi menggunakan yeast Pichia stipitis, glukosa akan diubah menjadi bioetanol dan karbon dioksida. Penyiapan starter dilakukan dengan proses inokulum yeast Pichia stipitis pada medium fermentasi sehingga yeast mampu beradaptasi dan siap melakukan fermentasi. Fermentasi berlangsung secara batch dengan volume medium fermentasi 8 liter, variasi volume starter 10%, 15%, 20%, dan variasi waktu fermentasi 6, 12, 24, 48, 72 dan 96 jam. Derajat keasaman medium fermentasi dijaga pada pH 4,5, kecepatan pengadukan 200 rpm dan suhu fermentasi pada suhu kamar. Konsentrasi bioetanol dianalisis dengan menggunakan alkoholmeter. Proses fermentasi optimum ditunjukkan pada kondisi penambahan volume starter 20% dan waktu fermentasi 48 jam dengan konsentrasi gula awal 150,999 mg/ml. Konsentrasi bioetanol yang diperoleh pada kondisi ini adalah 9%(v/v) atau 71,037 mg/ml dengan perolehan yield 92,244%.Item Fabrication of porous alumina-hydroxyapatite composites via protein foaming-consolidation method: Effect of sintering temperature(2013-05-15) Fadli, Ahmad; KomalasariIn this study, porous alumina-hydroxyapatite (HA) composite bodies were designed for the use in bone implant via protein foaming-consolidation method and the effect of sintering temperature was investigated. Commercial HA powder was used as a bioactive ceramic. Alumina and HA powders were mixed with yolk at an adjusted mass ratio to make slurry. The slurries were cast into cylindrical shaped molds and then dried for foaming and consolidation process. Subsequently, the dried bodies were burned at 600°C for 1 h, followed by sintering at temperatures of 1200, 1350, 1400 and 1550°C for 2 h, respectively. The results show that the sintered bodies were porous with pore size in the range of 20-250 μm and porosity of 42 – 45 %. Increasing sintering temperature from 1200 to 1550°C improved compressive strength from 1 MPa to 8 MPa. TCP phase was found in sintered bodies.Item Pengaruh Konsentrasi Starter Pada Pembuatan Kompos Dari Limbah Serat Buah Sawit dengan Teknologi Biofertilizer(2013-05-15) Shahila, Nila; Ahmad, Adrianto; WisrayettiLimbah padat yang di hasilkan oleh industri kelapa sawit di Indonesia mencapai 15,20 juta ton limbah/ tahun. Salah satunya berupa limbah serat buah sawit, apabila tidak di kelola dengan baik akan mencemari lingkungan. Salah satu penanganan limbah tersebut dengan mengubahnya menjadi pupuk kompos. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi starter pada proses pengomposan dan mendapatkan rasio C/N optimum pada pembuatan kompos dengan teknologi biofertilizer. Biofertilizer merupakan salah satu teknologi yang memanfaaatkan mikroorganisme dalam proses pengomposan untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan kandungan mikroorganisme berupa nutrisi. Penelitian berlangsung dalam 4 tahap. Tahap pertama adalah persiapan starter, tahap kedua adalah persiapan substrat berupa limbah padat serat buah sawit dengan ukuran 2cm, tahap ketiga adalah persiapan bioreaktor menggunakan 5 buah bioreaktor dan tahap keempat adalah proses pengomposan dengan variasi konsentrasi starter 0%, 10 %, 20%, 30% dan 40%. Selama proses pengomposan dilakukan pengukuran pH, temperatur, kadar air dan aerasi pada masing-masing bioreaktor dilakukan setiap 3 hari. Pengomposan dilakukan dengan proses aerob. Hasil penelitian menunjukkanbahwa, konsentrasi starter 0% diperoleh nitrogen sebesar 0.94, 10% sebesar 1.09, 20% sebesar 1.31, 30% sebesar 0.83, dan 40% sebesar 1.07. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, nilai optimum untuk kebutuhan nitrogen pada proses pengomposan terdapat pada konsentrasi starter 20% yang dapat mempercepat aktivitas mikroorganisme dengan nilai rasio C/N sebesar 10.45 pada hari ke 60 dengan konsentrasi starter 20% . Dengan demikian, nilai rasio C/N yang didapat sesuai dengan standar kualitas kompos SNI 19730-2004.