Kerusakan Hutan Rawa Gambut Di Cagar Biosper Giam Siak Kecil-Bukit Batu Dan Optimalisasi Pemulihan Melalui Rekayasa Kemampuan Regenerasi Alaminya

Abstract

Sebagian besar hutan rawa gambut di Indonesia mengalami penyusutan dari tahun ke tahun (Mirmanto dan Polosokan, 1999, Wahyunto et al, 2005). Di Propinsi Riau sendiri hutan rawa gambut telah mengalami penyusutan dari tahun 1982-2007 tercatat hutan alam seluas 4.166.381 ha atau 65% hilang dan 1.831.193 ha atau 57% merupakan hutan rawa gambut (Uryu etal, 2008). Sedangkan penyusutan lahan gambut berdasarkan tingkat ketebalan adalah Lahan gambut dengan ketebalan sangat dalam (kubah gambut) yang semula (1990) seluas 2,07 juta ha (51,1%) telah menyusut menjadi 1,61 juta ha (39,7%), sedangkan lahan gambut dengan ketebalan sedang yang semula luasnya 1,32 juta (32,8%), kini tinggal menjadi 0,952 juta ha (23.5%) atau menyusut sekitar 372.000 ha (Wahyunto et al, 2005). Dari hasil penafeiran citra landsat 7 ETM tahun 2007 kawasan rawa gambut yang relatif masih utuh di Propinsi Riau yaitu 1.330.012 ha (KLH, 2009). Hutan rawa gambut di Riau tersebar pada lima bentang alam yang masih relatif utuh, yaitu (1) Bentang alam Senepis, (2) Bentang alam Glam Siak Kecil- Bukit Batu, (3) Bentang alam Semenanjung Kampar, (4) Bentang alam Libo, dan (5) Bentang alam Kerumutan (Uryu et.al, 2008). Bentang alam Giam Siak Kecil- Bukit Batu telah ditetapkan sebagai warisan dunia atau Cagar Biosfer di tahun 2009 (Sinar Mas Forestry, 2009).

Description

Keywords

Optimalisasi Pemulihan

Citation