Kerusakan Hutan Rawa Gambut Di Cagar Biosper Giam Siak Kecil-Bukit Batu Dan Optimalisasi Pemulihan Melalui Rekayasa Kemampuan Regenerasi Alaminya
No Thumbnail Available
Date
2015-07-07
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Abstract
Sebagian besar hutan rawa gambut di Indonesia mengalami penyusutan
dari tahun ke tahun (Mirmanto dan Polosokan, 1999, Wahyunto et al, 2005). Di
Propinsi Riau sendiri hutan rawa gambut telah mengalami penyusutan dari tahun
1982-2007 tercatat hutan alam seluas 4.166.381 ha atau 65% hilang dan
1.831.193 ha atau 57% merupakan hutan rawa gambut (Uryu etal, 2008).
Sedangkan penyusutan lahan gambut berdasarkan tingkat ketebalan adalah
Lahan gambut dengan ketebalan sangat dalam (kubah gambut) yang semula
(1990) seluas 2,07 juta ha (51,1%) telah menyusut menjadi 1,61 juta ha
(39,7%), sedangkan lahan gambut dengan ketebalan sedang yang semula
luasnya 1,32 juta (32,8%), kini tinggal menjadi 0,952 juta ha (23.5%) atau
menyusut sekitar 372.000 ha (Wahyunto et al, 2005). Dari hasil penafeiran citra
landsat 7 ETM tahun 2007 kawasan rawa gambut yang relatif masih utuh di
Propinsi Riau yaitu 1.330.012 ha (KLH, 2009).
Hutan rawa gambut di Riau tersebar pada lima bentang alam yang masih
relatif utuh, yaitu (1) Bentang alam Senepis, (2) Bentang alam Glam Siak Kecil-
Bukit Batu, (3) Bentang alam Semenanjung Kampar, (4) Bentang alam Libo, dan
(5) Bentang alam Kerumutan (Uryu et.al, 2008). Bentang alam Giam Siak Kecil-
Bukit Batu telah ditetapkan sebagai warisan dunia atau Cagar Biosfer di tahun
2009 (Sinar Mas Forestry, 2009).
Description
Keywords
Optimalisasi Pemulihan