Browsing by Author "Saputra, Edy"
Now showing 1 - 17 of 17
Results Per Page
Sort Options
Item Deoksigenasi Catalytic Slurry Cracking (Dcsc) Limbah Padat Sawit Menjadi Bio-Oil Sebagai Alternatif Sumber Energi Terbaharukan(2015-07-05) Sunarno; Saputra, Edy; Zahrina, IdaZSM-5 merupakan zeolit sintetis yang banyak digunakan dalam industri terutama sebagai katalis. ZSM-5 ini dapat disintesis dari campuran silika dan alumina dengan komposisi dan kondisi operasi tertentu. Sementara abu dari pembakaran cangkang dan sabut sawit pada boiler banyak mengandung silika. Abu savvit ini dapat dikonversi menjadi silika terpresipitasi, sehingga pada penelitian ini mencoba membuat ZSM-5 dari bahan baku silika terpresipitasi. Tujuan penelitian adalah mensintesis ZSM5 dengan variabel Si/AI(20, 25,30), Suhu (160, 175,190 °C) dan waktu sintesis (12,18 ,24 jam). Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu persiapan bahan baku, sintesis ZSM-5 dan analisis produk. Persiapan bahan baku meliputi produksi silika terpresipitasi dan pembuatan natrium aluminat. Produksi silika terpresipitasi dibuat dengan mencampur abu sawit dengan larutan NaOH pada suhu 105C, diaduk selama 4 jam. Setelah kondisi dingin dilakukan penyaringan . Filtrat ditambahkan HCl pekat sampai membentu gel dan dioven. Silika terpresipitasi ini dianalisa kadar silikanya yaitu 84,7%. Pembuatan natrium aluminat dilakukan dengan mencampur A1(0H)3 dan larutan NaOH. Endapan yang terbentuk dioven. Sintesis ZSM - 5 dilakukan dengan melarutkan natrium aluminat dengan aquadest (suspensi 1). Silika terpresipitasi dicampur dengan aquadest (suspensi 2). Suspensi I dicampur dengan suspensi 2 (suspensi 3). Suspensi 3 ditambahkan NaOH sehingga diperoleh nisbah Na^O/AbO,:! 7,4, diaduk selama 30 menit dan dimasukkan dalam autoclaf pada temperatur dan waktu tertentu. Padatan yang terbentuk dicuci dengan aquadest dan dioven pada 110°C selama 6 jam. Produk dianalisis dengan FTIR dan hasilnya dibandingkan pita serapan pada bilangan gelombang dari ZSM-5 Vempati. Hasil penelitian ini menunjukkan pada suhu 175''C dan waktu 18, 24 jam rata-rata dihasilkan 3 karakter ZSM-5, sedangkan pada suhu 175C,18 jam dan Si/AI 30 diperoleh 4 karakter, Hal ini menunjukkan terbentuknya kristal ZSM-5. Pada suhu 160''C dan 190°C tidak didapatkan kristal ZSM-5.Item Kajian Bio Oil Dari Limbah Padat Sawit Dengan Metoda Fast Pyrolysis(2015-09-28) Detrina, Irenne; Yusnitawati; Bahri, Syaiful; Saputra, EdyTelah dilakukan penelitian pendahuluan pembuatan bio oil dari limbah padat sawit. Metoda yang digunakan adalah pyrolysis. Beberapa parameter yang diuji diantaranya variasi temperatur dan ukuran partikel. Pada telaah pendahuluan ini telah diperoleh fasa cair yang diyakini adalah bio oil dengan kualitas yang masih perlu dikaji lanjut. Kajian lanjut itu adalah pemurnian, penentuan sifat fisis, dan nilai kalor.Item KINETIKA DAN KARAKTERISTIK UNJUK KERJA OKSIDASI BASAH ASAM FORMIAT DAN ASAM ASETAT(2013-03-14) Chairul; Saputra, Edy; Zul Amraini, SaidOksidasi basah (wet oxidation) merupakan cara yang sangat baik untuk mengolah buangan menunjukkan kandungan senyawa organic (COD, Chemical Oxygen Demand) yang tinggi. Bila sumber iksigen berasal dari udara disebut iksidasi basah (wet oxidation) . Oksidasi basah adalah plilihan yang tepat untuk menjawab ketidakmampuan proses COD yang sangat tinggi. Chairul (1996) mengolah lumeran sampah ( leachate) yang memiliki kandungan COD 300mg/L menggunakan proses lumpur aktif. Efisiensi pengolahan yang didapatkan rata-rata 86.42% dan hasil olahan mengandung konsentrasi COD yang cukup berarti. Teknik oksidasi basah menjadi popular dan menguntungkan di kalangan ahl lingkungan untuk mengolah limbahorganik sampai mencapai standar buangan yang didizinkan (shande, 1994).Item Kinetika Ekstraksi Reaktif Silika Dari Abu Sabut Sawit(2015-09-28) Utama, Panca Setia; Saputra, EdyAbu sabut sawit merupakan sumber silika yang cukup potensial tetapi belum banyak termanfaatkan. Proses ekstraksi silika dalam abu sabut sawit dengan menggunakan pelarut NaOH merupakan salah satu cara untuk mendapatkan silika dengan kemurnian yang tinggi. Dibandingkan dengan metode lain proses ini memiliki keunggulan yaitu dapat dihasilkannya silika dengan kemurnian yang tinggi dan suhu proses yang relatif rendah. Dalam proses tersebut dijumpai sistem heterogen yang melibatkan perpindahan massa padat-cair dan reaksi kimia. Proses ekstraksi silika dari abu sabut sawit dengan pelarut NaOH dapat dilakukan secara batch pada tangki berpengaduk. Mula-mula larutan NaOH dimasukkan dalam tangki dan dipanaskan dalam waterbath sampai suhu tertentu. Kemudian abu sabut sawit dimasukkan dalam tangki dan diaduk pada kecepatan pengadukan tertentu. Setiap selang waktu tertentu cuplikan diambil dan dianalisa kadar Silikonnya (Si) dengan AAS. Variabel yang dipelajari adalah variasi suhu pada kisaran 80 oC sampai dengan 105 oC. Pada percobaan ini proses ekstraksi silika dapat didekati dengan model reaksi homogen semu orde satu terhadap NaOH, dengan kesalahan relatif rata-rata sekitar 2 %. Konstanta kecepatan reaksi over all pada kisaran suhu percobaan dapat didekati dengan persamaan Arrhenius, berbentuk : k’ = 28960 exp (-6021,3 /T ) ( men-1) dengan kesalahan relatif 3,7 %Item Kinetika Kalsinasi Batu Gamping dalam Kalsinator Fluidisasi Pada Proses Pembuatan Kapur Tohor(CaO)(2012-12-04) Amri, Amun; Saputra, Edy; Setia Utama, PancaData dari Biro Pusat Stalistik menyebutkan Propinsi Riau memiliki potensi sumber daya alam batu gamping yang cukup besar, namun kenyataannya potensi itu belum diolah menjadi produk yang lebih bemilai. Salah satu produk turunan dari batu gamping yaug mempunyai nilai jual yang tinggi adalah kapur tohor. Penelitian ini berupaya mengungkap karakteristik proses dan produk kapur tohor yang dibuat dari batu gamping asal Propinsi Riau. Kaisinasi batu gamping dilakukan dalam furnace dengan panas terfluidisasi dalam kisi batuan dengan variable variasi suhu dan ukuran butir batu gamping. Kapur tohor yang lerbentuk di analisa kandungannya dengan cara volumetri dengan memhuat larutan Ca(OH)2. Tiirasi dilakukan pada larutan tersebui menggunakan 0,5 N H C l . Data massa produk CaO kemudian dikonvorsikan ke data CaCO3 tersisa, yang membentuk data kisietika berupa plot data CaCO3 tersisa VS waktu kaisinasi pada berbagai suhu dan ukuran butir. Analisa data kinetika menunjukkan bahwa konversi maksimum batu gamping menjadi kapur tohor sebesar 78%. Suhu dan waktu kaisinasi optimum yang diperoleh adalah pada suhu 90 C ' selama 1 jam kalsinasi.Item Optimization of High Temperature Silica Extraction from Palm Oil Mill Fly Ash in Pressurized Extractor(2016-04-22) Aman; Saputra, EdySilica extraction from Palm Oil Mill Fly Ash (POMFA) using sodium hydroxide solvent was done at temperature above its boiling point in pressurized stainless steel extractor. The main composition of the POMFA was 39.99% silica and 40.83% unburned carbon. The response surface method (RSM) was applied to optimize the temperature and the stirring speed. The extract silica was analyzed using Inductively Plasma Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES) to measure the silica content. At the optimum temperature and stirring speed the effect of the mass ratio NaOH to POMFA was studied. The optimum conditions were temperature of 156 oC, stirring speed of 461 RPM and mass ratio of NaOH to POMFA 0.02. The silica conversion at the optimum conditions was 76.44 ± 0.44 %.Item Pemanfaatan Penukar Kation dari Batubara Lignit Sebagai Altematif Pengganti Resin Sintetis untuk Menghilangkan Kesadahan Air(2012-12-04) Sunarno; Setia Utama, Panca; Saputra, EdyAir sadah sangat merugikan industri yang memproduksi steam dan dalam rumah tangga. Salah satu proses untuk menghilangkan kesadahan adalah proses ion exchange dengan resin yang harganya relatif mahal. Dalam lignit terdapat gugus aktif, kuat dan lemah yang dapat dipakai sebagai adsorben. Untuk meningkatkan daya jerap lignit terhadap Ca^^ yang merupakan kation penyebab kesadahan maka lignit ini perlu disulfonasi. Sulfonasi lignit dengan larutan asam sulfat dilakukan dalam reaktor batch. Lignit sebelum disulfonasi dihancurkan dan diayak untuk memperoleh butiran - 40+60 mesh. Variabel yan dipelajari pada sulfonasi lignit adalah variasi konsentrasi asam sulfat pada kisaran 2-10 M, waktu sulfonasi pada kisaran 1-6 jam dan suhu sulfonasi pada kisaran 30 - 50°C. Untuk menguji daya jerap lignit yang tersulfonasi dilakukan dengan merendam 2 gram lignit dalam 250 ml larutan Ca^"^ 500 ppm selama 24 jam, kemudian dipisahkan. Filtrat hasil pemisahan dititrasi dengan EDTA untuk mengetahui konsentrasi Ca^^ sisa dalam larutan. Hasil penelitian menunjxikkan bahwa variabel konsentrasi asam sulfat diperoleh daya jerap yang paling besar adalah lignit yang disulfonasi dengan H2SO4 4 M. Untuk variabel waktu sulfonasi diperoleh hasil semakin lama sulfonasi akan terjadi peningkatan daya jerap lignit terhadap Ca^^. Sedangkan untuk variabel suhu diperoleh makin tinggi suhu sulfonasi maka makin tinggi daya jerap lignit terhadap Ca^^ Pada penelitian ini diperoleh kapasitas jerap tertinggi pada sulfonasi lignit dengan konsentrasi asam sulfat 4M, waktu sulfonasi 6 M dan suhu sulfonasi 50"C yaitu sebesar 103,89 mg Ca^^/gr lignit.Item Pembuatan Silika Presipitasi Industrial Grade Silica) Dari Fly Ash Sawit Limbah Padat Industri Minyak Sawit(2015-07-06) Saputra, Edy; Setia Utama, Panca; Jr. SuprantoPada penelitian ini telah dilakukan pemanfaatan abu sawit untuk mendapatkan silica presipitasi/ Industrial grade silica (IGS) yang bersifat amorphous. Diharapkan pada penelitian ini akan didapat kondisi proses yang optimum dalam menghasilkan IGS. Sebelum dilakukan proses ekstraksi-reaktif, abu saM'it dilakukan proses pemumian sehingga didapat crude silica. Rangkain proses dilakukan dengan kondisi proses yang didapat pada tahun ke-I. IGS diperoleh dengan cara crude silica diekstraksi-reaksi dengan solven sodium hidroksida dengan suhu. Reaksi antara crude silica dan sodium hidroksida dilakukan dalam Reaktor Tangki Berpengaduk Bertekan (RTBB) diatas atmosper dilengkapi dengan digital temperature control. Proses ekstraksi-reaksi dipelajari dengan melakukan perubahan suhu (T) dan konsentrasi solven. Setiap waktu yang ditentukan sampel diambil. Hasil yang dikeluarkan dari RTBB masih berupa campuran produk dan reaktan disaring dan dilakukan analisa dengan menggunakan Atomic Absorpsion Spectrometer (AAS). Dari variabel yang dipelajari proses ektaktif-reaktif konversi yang paling besar didapat pada suhu 160 °C dengan konversi 90 % dengan konsentrasi solven 0,28N dan waktu reaksi 6,5 jam. Sedangkan untuk variasi konstrasi yang dipelajari kondisi terbaik tidak begitu berbeda dengan konsentrasi yang digunakan pada variasi suhu.Item Pembuatan Silika Presipitasi {Industrial Grade Silica) Dari Fly Ash Sawit Limbah Padat Industri Minyak Sawit(2013-01-09) Saputra, EdyPada penelitian ini telah dilakukan pemanfaatan abu sawit untuk mendapatkan silica presipitasi/ Industrial grade silica (IGS) yang bersifat amorphous. Diharapkan pada penelitian ini akan didapat kondisi proses yang optimum dalam menghasilkan IGS. Sebelum dilakukan proses ekstraksi-reaktif, abu sawit dilakukan proses pemurnian sehingga didapat crude silica. Rangkain proses dilakukan dengan kondisi proses yang didapat pada tahun ke-I. IGS diperoleh dengan cara crude silica diekstraksi-reaksi dengan solven sodium hidroksida dengan suhu. Reaksi antara crude silica dan sodium hidroksida dilakukan dalam Reaktor Tangki Berpengaduk Bertekan (RTBB) diatas atmosper dilengkapi dengan digital temperature control. Proses ekstraksi-reaksi dipelajari dengan melakukan perubahan suhu (T) dan konsentrasi solven. Setiap waktu yang ditentukan sampel diambil. Hasil yang dikeluarkan dari RTBB masih berupa campuran produk dan reaktan disaring dan dilakukan analisa dengan mtnggMmkan Atomic Absorpsion Spectrometer (AAS). Dari variabel yang dipelajari proses ektaktif-reaktif konversi yang paling besar didapat pada suhu 160 °C dengan konversi 90 % dengan konsentrasi solven 0,28N dan waktu reaksi 6,5 jam. Sedangkan untuk variasi konstrasi yang dipelajari kondisi terbaik tidak begitu berbeda dengan konsentrasi yang digunakan pada variasi suhu.Item PEMBUATAN ZSM-5 DARI SILIKA PRESIPITASI ABU SAWIT SEBAGAI KATALIS PROSES CATALYTIC CRACKING LIMBAH PADAT SAWIT(2014-02-06) Sunarno; Saputra, Edy; Zahrina, Ida; Rochmadi; BudijantoAbu yang dihasilkan pada pembakaran cangkang dan sabut sawit pada boiler banyak mengandung, silika. Sementara ZSM-5 dapat disintesis dari campuran silika dan alumina dengan komposisi dan kondisi tertentu. Sebelum digunakan sebagai bahan baku, abu sawit ini dikonversikan menjadi silika terpresipitasi. Variabel yang diteliti pada sintesis ZSM-5 ini adalah rasio Si/Al(20,25,30), Suhu (160,175,195˚C) dan waktu sintesis (12, 18 dan 24 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu I75˚C, waktu 18 jam dan Si/Al 30 terdapat pita serapan gelombang seperti ZSM-5 yang dihasilkan VempatiItem Penerapan Spouted-Bed dengan Keberadaan Partikel Pendukung dalam Pembuatan Natrium Silikat (Na2Si03) dari Abu Sabut SaW\{ Limbah Industri Minyak Sawit(2012-12-02) Saputra, Edy; Setia Utama, Panca; Sunarnokegitan dalam proses industri tampaknya tidak terlepas dari sisa produksi baik itu industri pertanian maupun industri kimia lainnya. secara umum buangan atau sisa produksi tersebut bisa dinamakan limbah. limbah industri ad berbagai macam, misalnya limbah padat, cair dan gas. limbah padat pertanian ( bimassa) yang banyak di provinsi riau salah satunya adalah sabut sawit sisa dari industri dari kelapa sawit yang belum d manfaatkan secara optimal. sabut sawit, yang pada hakekatnya hanya limbah, ternyata merupakan sumber silika/ karbon yang cukup tinggi.Item PENGARUH PENAMBAHAN KATALIS ZSM-5 PADA PIROLISIS TANDAN KOSONG SAWIT MENJADI BIO-OIL DALAM REAKTOR SLURRY(2013-05-04) Sunarno; Saputra, EdySalah satu biomasa adalah tandan kosong sawit(tks) yang memiliki kandungan selulosa sekitar 73,85%. Biomasa ini dapat dipirolisis menjadi bio-oil. Dari proses pirolisis konvensional yang selama ini digunakan, memiliki beberapa kelemahan yaitu dari konsumsi energi yang tinggi dan yield produk yang relatif rendah. Pada penelitian yang akan dikembangkan ini akan mencoba alternatif baru yaitu menggunakan media pemanas termooil pada reaktor slurry dengan katalis ZSM-5. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh perbandingan berat katalis ZSM-5/tks(0,1,2,3,4%) dan suhu(290,300,310,320 0C) terhadap yield bio-oil yang dihasilkan serta karakterisasi bio-oil pada proses yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi suhu maka yield bio-oil makin besar. Pada penelitian ini diperoleh yield terbesar yaitu 70,2% yang terjadi pada suhu 3200C dan konsentrasi katalis 3%, bio-oil yang dihasilkan pada proses ini mempunyai titik nyala 490C.Item PENGOLAHAN AIR SUNGAI MENGGUNAKAN TEKNOLOGI MEMBRAN : PENGARUH MEMBRAN SELULOSA ASETAT TERHADAP KUALITAS AIR OLAHAN SUNGAI SIAK(2016-07-30) Pinem, Jhon Armedi; Bahri, Syaiful; Saputra, Edy; Anita, SofiaPerkembangan kota pekanbaru yang cukup pesat menyebabkan permintaan akan air bersih semakin meningkat. Disisi lain,sumber-sumber air baku semakin lama semakin terbatas, sehingga sering terjadi krisis air bersih. Salah satu sumber air yang digunakan penduduk Pekanbaru berasal dari Sungai Siak, namun kualitas air Sungai Siak melebihi baku mutu sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Saat ini teknologi membran selulosa asetat sedang berkembang. Pada penelitian ini akan dilakukan pengolahan air sungai siak menggunakan membran selulosa asetat 17%. Tujuan dari penelitian ini yaitu merumuskan pengaruh komposisi selulosa asetat terhadap kualitas air olahan dari Sungai Siak. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pengaruh kinerja selulosa asetat terhadap kualitas air olahan Sungai Siak yaitu membran selulosa asetat mampu menurunkan kadar pengotor yang terdapat pada air Sungai Siak. Adapun kualitas air yang diperoleh untuk masing-masing parameter seperti konsentrasi kekeruhan 0,1 mg/L, konsentrasi warna 1 PtCo, konsentrasi TDS 58 mg/L, konsentrasi alumunium 0,0182, konsentrasi besi <0,0195 mg/L, konsentrasi nitrat 0,0589 mg/L. Seluruh konsentrasi pada masing-masing parameter sesuai dengan Permenkes No.492 Tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dengan filtrasi membran selulosa asetat mampu mengolah air Sungai Siak menjadi air layak konsumsi/layak minum.Item Pengolahan Limbah Padat Abu Industri Sawit dengan Proses Isolasi dan Reduksi Menjadi Logam Silikon (Si) Grade Industri (Industrial Grade Silicone)(2012-12-04) Saputra, EdySelama ini pemanfaatan limbah padat berupa cangkang dan sabut sawit iianya bersifai pemanfaatan fisis, yaitu sebagai bahan penyerap (absorben) (Purwaningsiii dkk, 2000) ataupun bahan pengisi {ftUer) aspal beton, pada industri bata, genteng dan lain sebagainya (Pratomo, 2001, 1997; Sapitri, 1998). Pemanfaatan secara kimia dengan mengambil unsur silikon belum dilakukan. Pada umumnya sebagai sumber silikon saat ini dipakai bahan gaiian kwar^a dan pasir silika (Hence and West, 1992), SiOi dalam kedua jen's bahan baku ini berbentuk kristalin sehingga memerlukan energi proses yang Icbili besar (Sumardi dkk, 1998). Sedangkan Si02 pada abu cangkang dan sabut sawit berbentuk amorphous yang lebih reaktif (mudah bereaksi) dan tidak membutuhkan energi proses yang besar. Pada umumnya data data penelitian yang ada berkaitan dengan proses sintesis/reduksi Si02 berasal dari pasir kwarsa (Hench and West, 1992) dan tanah radiolarian (diatomae) (Sumardi, 1999), sedangkan untuk abu sawit belum tersedia. Dengan demikiari data-data proses yang ada tidak dapat diaplikasikan sebagai data proses untuk pembuatan iogam silikon (Si) grade industri dari abu sawit untuk kepefluan industri kimia berbasis silikon. Pada penelitian ini telah dilakukan pemanfaatan abu sabut dan cangkang sawit untuk mendapatkan silika amorphous dan merrliliki kemumian yang tinggi. Diharapkan pada penelitian ini mendapatkan urutan proses yang tepat dan kondisi proses yang optimum dalam menghasiikan silika. Pada tahapan pertama dilakukan pencucian untuk memisahkan unsur kalium yang juga cukup berguna apabila digunakan untuk bahan pembuatan pupuk KCI dan KOH. Pada proses ini telah dipelajari beberapa variabel seperti suhu dan tingkatan (stdge) pencucian. Rentang suhu yang diambi yaitu 30-80 °C dan pencucian dalam 3 tingkatan dengan perbandingan nisbah tertentu. Hasil yang relatif cukup baik yaitu pencucian untuk sabut sawil dilakukan pada 3 stage dengan perbandingan abu dan air, 1:10. dan pada suhu 55 "C. Sedangkan unti;k cangkang sawit pencucian dilakukan pada 1 stage dengan perbandingan abu dan air, 1:30 dan pada suhu 30 °CItem Pirolisis Tandan Kosong Sawit Menjadi Bio-Oil dengan Katalis CoMo/ZSM-5(2013-05-07) Sunarno; Bahri, Syaiful; Saputra, EdyKebutuhan akan sumber energi yang terus meningkat dan cadangan minyak bumi sebagai sumber energi utama yang terus menipis menjadi alasan utama betapa pentingnya mencari sumber energi alternatif pengganti minyak bumi. Biomassa khususnya tandan kosong sawit yang melimpah terdapat di Indonesia dapat diproses menjadi bio-oil melalui proses pirolisis. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh rasio katalis CoMo/ZSM-5 dengan tandan kosong sawit (0, 1, 2, 3, 4%) dan suhu (290, 300, 310, 320 0C) terhadap yield bio-oil yang dihasilkan serta karakterisasi bio-oil pada proses yang optimal. Tahap penelitian meliputi sintesis katalis CoMo-ZSM5, pirolisis tandan kosong sawit dan analisa hasil. Sintesis ZSM-5 dijalankan pada reaktor autoclave pada suhu 1750C, Si/Al 30 dan waktu sintesis 18 jam. Pirolisis tandan kosong sawit dengan menggunakan reaktor slurry yang dilengkapi dengan kondensor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi suhu maka yield bio-oil makin besar. Pada penelitian ini diperoleh yield terbesar yaitu 71,6% yang terjadi pada suhu 3200C dan konsentrasi katalis 3%. bio-oil yang dihasilkan pada proses iniItem PROSES PENCAIRAN BIOMASSA DARI SABUT KELAPA SAWIT MENJADI BIO-OIL DENGAN MENGGUNAKAN THERMO-OIL(2013-05-04) Saputra, Edy; P.S, Utama; Awaluddin, A; Mardiati, ABio-oil adalah bahan bakar cair berwarna gelap, beraroma seperti asap, dan diproduksi dari biomassa melalui teknologi pirolisis atau pirolisis cepat (fast pyrolysis). Bio-oil merupakan bahan bakar yang dapat dioksigenasi, mengandung karbon, hidrogen, oksigen dan dengan kandungan nitrogen dan sulfur yang sangat sedikit, bahkan kandungan sulfurnya dapat diabaikan. Bio-oil dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah, bahan bakar boiler dan dimanfaatkan untuk turbin dan mesin diesel kecepatan rendah dan medium untuk menghasilkan listrik. Pada penelitian ini biomassa yang dipergunakan adalah sabut sawit, yang tersedia melimpah di Riau. Selama ini pembuatan bio-oil menggunakan proses pirolisis konvensional, yaitu thermal cracking yang menggunakan suhu diatas 500oC untuk menghasilkan bio-oil. Proses ini masih memiliki masih memiliki kelemahan yaitu dari segi yield produk yang relatif kecil dan konsumsi energi yang besar. Untuk itu, penggunaan thermo-oil sebagai media pemanas biomassa dalam pirolisis telah dikembangkan dengan menggunakan suhu yang lebih rendah. Pembuatan bio-oil dilakukan dengan proses pencairan langsung menggunakan thermo-oil (silinap) 500 ml dengan variasi berat biomassa 30, 40, 50, 60 dan 70 gram, kecepatan pengadukan 900, 1100 dan 1300 rpm dan temperatur reaksi 300, 310 dan 320oC. Hasil optimum diperoleh pada variasi berat biomassa 50 gram, kecepatan pengadukan 900 rpm, dan variasi temperatur reaksi 320oC sebesar 59,4%. Pada karakterisasi bio-oil ditentukan kandungan air, massa jenis (densitas), viskositas, titik nyala, nilai kalori dan identifikasi senyawa yang terdapat pada bio-oil dengan menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa (GC-MS) dan hasilnya berturutturut adalah 8,394% ; 935,4 kg/m3 ; 11,131cP ; 60oC ; 22,912 MJ/Kg. Hasil tersebut tidak melewati nilai standar dari Smallwood. Senyawa yang terdapat pada bio-oil dari bahan baku sabut kelapa sawit adalah alkena, keton, dan furans, hasil ini sesuai dengan kandungan senyawa yang terdapat pada bio-oil menurut Goyal dkk (2006).Item SYNTHESIS OF HZSM-5 CATALYST FROM PALM OIL PLANT FLY ASH FOR CATALYTIC CRACKING PROCESS OF EMPTY FRUIT BUNCHES TO BIO-OIL(2014-02-06) Sunarno; Utama, Panca Setia; Zahrina, Ida; Bahri, Syaiful; Saputra, EdyThe need of energy increases whilist oil reserve as a primary energy resource decreases, this is the reason why seek an alternative energy source is inevitable. Biomass especially palms oil empty fruit bunches (PEFB) which are abundant in Indonesia can be processed into bio-oil by catalytic cracking process. The objective of this research is to study the effect of the concentration of NH4NO3 for synthesis of HZSM-5 and used it as catalyst in catalytic cracking process of PEFB. The HZSM-5 was synthesized by ion exchange of the solution of NH4NO3 and ZSM-5 (Si / Al = 30) at 80oC for 12 hours. The product formed is then washed, dried and calcined at 500oC for 5 hours respectively. The HZSM-5 was characterized by BET to determine surface area and then is tested its performance in the catalytic cracking process of PEFB in 1000 ml stainless steel stirred batch slurry reactor at 300 oC. Bio-oil obtained was characterized of density, viscosity and flash point respectively. The largest surface area was found of the catalyst which exchanged in 0.5 M NH4NO3 concentration, which having surface area 79.32 m2/g. The largest yield of bio-oil was 66.4 %. The physical characterization of bio-oil were the density = 995 g/ml, viscosity = 14.3 cp and flash point = 48 oC respectively